Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inilah Tempat Terdingin di Alam Semesta, Kutub Tak Ada Apa-apanya

Kompas.com - 08/10/2018, 20:02 WIB
Gloria Setyvani Putri

Penulis


KOMPAS.com - Dengan suhu hampir minus 100 derajat Celsius, wilayah timur Antartika dekat Kutub Selatan boleh jadi kawasan terdingin di Bumi.

Namun, dinginnya kutub tak ada apa-apanya jika dibanding dengan Nebula Bumerang.Para ilmuwan menobatkannya sebagai tempat terdingin di alam semesta.

Tak tanggung-tanggung, suhu di Nebula Bumerang mencapai -272 derajat Celsius. Data tersebut dicatat oleh para astronom menggunakan teleskop Atacama Large Millimeter-submillimeter Array (ALMA) di Cile pada 2013.

Nebula Bumerang merupakan objek angkasa yang jaraknya sekitar 5.000 tahun cahaya dari Bumi dan terletak pada konstelasi Centaurus.

Baca juga: Minus 100 Derajat Celsius, Inilah Tempat Paling Dingin di Bumi

Nebula Bumerang merupakan fase awal dari sebuah nebula planet yang terbentuk dari bintang raksasa merah yang sekarat.

Nebula Bumerang terbentuk dari aliran gas yang berasal dari bintang yang terletak pada intinya. Gas bergerak keluar pada kecepatan 164 km/detik dan meluas dengan cepat ketika bergerak ke angkasa. Perluasan ini diakibatkan oleh suhu nebula yang sangat rendah.

Sumber: https://www.infoastronomy.org/2017/06/nebula-bumerang-objek-terdingin-sejagad.html

Bintang raksasa merah merupakan bintang sekarat yang ada di tahap terakhir evolusi bintang. Ukurannya terbilang sangat besar, mulai dari tiga sampai delapan kali massa Matahari.

Baca juga: Profil Surya Sahetapy, Putra Ray Sahetapy yang Berprofesi Dosen di Amerika

Nebula Bumerang terbentuk dari aliran gas yang berasal dari bintang yang terletak pada intinya. Gas bergerak keluar pada kecepatan 164 km/detik dan meluas dengan cepat ketika bergerak ke angkasa. Perluasan ini diakibatkan oleh suhu nebula yang sangat rendah.

Di tengah-tengah bintang raksasa merah ada bintang katai putih. Bintang tersebut mengemisikan radiasi ultraviolet yang menyebabkan gas di sekitarnya berkilau dan bercahaya.

Saat bintang membakar diri melalui suplai hidrogen di intinya, ia bergabung dengan helium dan meningkatkan jumlah energi yang dipancarkan ke segala arah.

Baca juga: Ribuan Kurir Antre Sepanjang 2 Kilometer untuk Retur Paket di Ulujami

Karena bintang tidak bisa menghasilkan cukup panas untuk menopang beratnya, maka hidrogen yang tersisa mulai dikompresi dalam lapisan di bagian luar inti.

Kompresi akan menghasilkan lebih banyak energi. Hasil dari proses tersebut akan membuat bintang menjadi lebih bercahaya, gasnya dingin, dan bintang tampak lebih merah.

Pada akhirnya bintang raksasa merah membakar hidrogen sepenuhnya dan mulai menggabungkan helium menjadi elemen yang lebih berat dan saat itulah lapisan inti bintang runtuh.

Baca juga: Bantah Uang Kompensasi Dedi Mulyadi Dipotong, Dishub: Itu Keikhlasan Sopir

Pada titik ini, bintang raksasa merah terbakar dan menyisakan bagian luarnya.  Cahaya dari bintang katai putih menyinari gas dan membentuk nebula yang cantik.

Dengan kecepatan sekitar 585.000 km/jam atau 164 km/detik, membuat nebula bumerang menjadi sangat dingin, bahkan lebih dingin dari radiasi kosmik yang tersisa dari Big Bang, minus 270 derajat Celsius.

Halaman:
Berikan Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE



Video Pilihan Video Lainnya >

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi Akun
Proteksi akunmu dari aktivitas yang tidak kamu lakukan.
199920002001200220032004200520062007200820092010
Data akan digunakan untuk tujuan verifikasi sesuai Kebijakan Data Pribadi KG Media.
Verifikasi Akun Berhasil
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau