Kompas.com - 08/10/2018, 19:30 WIB

Matthias Green, ahli kelautan di Bangor University, Inggris mengatakan bahwa kini California dan Asia Timur sedang menuju Hawaii. Sedangkan Amerika Utara terus menjauhi Eropa.

Di lain sisi, Australia bergerak ke utara pada jalur trabakan dengan Korea dan Jepang. Afrika justru berputar arah ke uatara menuju Eropa.

Tapi jangan bayangkan lempeng ini bergerak sangat cepat. Pergerakannya hanya terjadi pada kecepatan sentimeter per tahun saja.

Mitchell dan Green menyebut pergerakan ini seperti permainan "tetris" geologi.

Perkiraan mereka, nantinya Samudra Atlantik akan tertutup Kanada yang menabrak Semenanjung Iberia. Selain itu, Amerika Selatan akan menabrak Afrika bagian selatan.

Bisa jadi, Samudra Pasifik akan menghilang tergantikan dengan Asia dan Amerika Utara.

Bahkan, dalam hipotesis tak biasa Mitchell, Amerika Utara dan Asia kemungkinan bergerak untuk berkumpul di Kutub Utara menghilangkan Samudra Arktik.

Baca juga: Sekelompok Ilmuwan Investigasi Benua yang Hilang dan Inilah Hasilnya

Pengaruh pada kehidupan

Ketika seluruh daratan di muka bumi bersatu tentu ada berbagai perubahan kehidupan terjadi. Itu karena fenomena ini akan mengubah pola cuaca dan iklim.

Artinya, keanekaragaman hayati akan sangat terpengaruh.

"Kepunahan massal terbesar hingga saat ini terjadi selama Pangea," kata Green.

"Apakah itu karena kita berada di benua super? atau kebetulan?" sambungnya.

Pendapat green ini mengacu pada kepunahahan Permian-Triassic yang dijuluki "Kematian Besar-besaran". Saat itu, 90 persen spesies di dunia mati 250 juta tahun lalu.

Sebagai informasi, sesaat setelah Pangea terbentuk, terjadi dua letusan gunung berapi besar yang memuntahkan sejumlah besar metana dan karbon dioksida ke atmosfer. Muntahan material gunung berapi itulah yang kemungkinan menyebabkan kematian massal.

Namun, para ilmuwan tidak sepakat tentang kaitan lempeng tektonik dan proses konveksi yang membentuk Pangaea dengan peristiwa gunung berapi yang kritis ini.

Karena itu, masih tidak jelas apa yang akan terjadi pada kehidupan di Bumi ketika benua super berikutnya terbentuk. Tapi, berkat para ilmuwan seperti Mitchell dan Green, setidaknya kita bisa tahu seperti apa bentuk muka bumi akan terlihat beberapa ratus juta tahun dari sekarang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.