Kompas.com - 08/10/2018, 19:30 WIB

Ada 9 lempeng utama yang bergerak di atas mantel bumi, lapisan cair yang terletak di antara inti dan kerak semi-padat planet kita.

Lempeng-lempeng tersebut bergerak akibat sebuah proses yang disebut konveksi. Konveksi sendiri terjadi ketika material lebih panas dari inti bumi naik ke atas dan mantel batu yang dingin bergerak turun.

Pergerakan naik turunnya mantel bumi inilah yang membuat lempeng-lempeng tersebut menjadi terpisah atau bergabung dengan cara mendorong satu sama lain.

Sebenarnya, para ilmuwan dapat melacak pergerakan lempeng tektonik menggunakan instrumen GPS.

Tetapi, untuk mengetahui apa yang menyatukan lempeng-lempeng ini jutaan tahun yang lalu, ahli paleogeologi harus beralih ke magnet alami di kerak Bumi.

Itu karena lava panas yang mendingin di persimpangan tempat dua lempeng bertabrakan mempunyai beberapa batuan di lava mengandung mineral magnetik, seperti magnetit. Padahal posisi batuan tersebut sejajar dengan medan magnet Bumi saat ini.

Artinya, para ilmuwan bisa menggunakan pergerakan batuan magnetik yang melalui lempeng tektonik untuk menghitung di mana, dalam hal garis lintang, magnet itu terletak di masa lalu.

Siklus benua besar

Salah satu hal yang menjadi pertanyaan adalah, kapan benua besar tersebut akan kembali terbentuk?

Menurut Mitchell, benua super baru terbentuk setiap 600 juta tahun atau lebih. Meski begitu, dia tidak menampik bahwa ada kemungkinan benua besar akan terbentuk lebih cepat.

Baca juga: Peneliti Inggris Prediksi 7 Benua Akan Jadi Satu Daratan

Mitchell memperkirakan Amasia (benua super yang akan terbentuk) terjadi lebih cepat karena panas internal bumi menghilang. Ini membuat koveksi terjadi lebih cepat.

"Mengingat bahwa masa kejayaan Pangea mungkin terjadi 300 juta tahun lalu, Amasia akan terbentuk 300 juta tahun dari sekarang," kata Mitchell.

"Tapi itu bisa terbentuk lebih cepat, yaitu 200 juta tahun dari sekarang," tegasnya.

Sulitnya prediksi

Meski telah diperkirakan, tapi memprediksi kelahiran Amasia bukanlah hal yang sederhana.

"Hal tersulit dari memprediksi Pangea masa depan adalah bahwa Anda tidka dapat menggunakan gerakan lempeng saat ini dan menghitungnya begitu saja," kata Mitchell.

Apalagi gerakan lempeng bumi bisa berubah secara tak terduga. Ditambah ketidaksempurnaan di dasar laut menyebabkan lempeng membelok dari lintasannnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.