Kompas.com - 02/10/2018, 19:07 WIB

KOMPAS.com – Pemahaman masyarakat akan tanda-tanda alam dari tsunami dirasa Dr. Eko Yulianto, Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, lebih penting ketimbang mengandalkan alat peringatan dini bencana alam.

Hal ini karena banyaknya persepsi yang salah dari masyarakat dan kondisi ancaman bencana alam di Indonesia yang berbeda-beda.

“Tidak semua ancaman sama di Indonesia. Tsunami bisa datang kurang dari 10 menit setelah gempa, sedangkan sistem peringatan dini kita untuk memberikan warning pertama yang isinya biasanya kekuatan gempa yang berpotensi tsunami dan untuk mengeluarkan analisisnya itu perlu paling tidak 3 menit belum deseminasinya. Jadi mungkin menit kelima atau keenam baru muncul secara publik,” kata Eko.

Dampaknya, beberapa alat peringatan dini bencana alam di beberapa wilayah menjadi tidak efektif karena jaraknya sangat pendek antara kejadian gempa dan sampainya tsunami ke daratan.

Baca juga: 4 Fenomena Tak Terduga yang Terjadi saat Gempa Palu dan Lombok

“Kasus seperti 25 Oktober 2010 di Mentawai, orang yang selamat yang kita interview saat itu melihat tulisan ‘berpotensi tsunami’ di televisi. Dia keluar, lari sedikit, air sudah menggulung,” tambah Eko saat berbicara dalam kegiatan Analisis LIPI untuk Gempa dan Tsunami Indonesia, Selasa (02/10/2018), di Kantor Pusat LIPI.

Eko berpendapat jika sistem peringatan dini bencana alam baru bisa berguna ketika jarak tsunami datang ke darat itu cukup panjang. Maka dari itu, dia menawarkan cara lain untuk dapat meminimalisir korban jiwa akibat bencana alam.

“Pada kondisi ini, akan lebih efektif kalau ada pendidikan tentang evakuasi tsunami dengan memahami gejala-gejala tsunami. Jadi, mau tidak mau yang bisa kita andalkan adalah gempa sebagai faktor utama tsunami,” katanya.

Baca juga: Terungkap yang Sebenarnya, Ini Alasan BMKG Akhiri Peringatan Tsunami

Dia pun mengatakan, masyarakat juga dalam mempersepsikan gempa itu kadang suka keliru. Mereka mengira gempa yang menimbulkan tsunami itu yang guncangannya kuat. Padahal, di zona subduksi guncangannya lemah tapi juga bisa tejadi tsunami.

"Malahan guncangan yang kuat boleh jadi bukan karena magnitudo gempanya, tetapi karena faktor di mana kita tinggal yang mungkin di atas titik sumber gempa,” sambung Eko.

Dia menyarankan bagi masyarakat untuk memiliki keinginan lebih dalam mengeksplorasi segala informasi yang berkaitan dengan bencana alam. Dengan mengetahui banyak soal bencana alam, diyakini akan lebih efektif untuk meminimalisir jumlah korban dan kerugian yang didapat akibat bencana alam.

“Kita berada di ring of fire, di mana gempa akibat aktivitas di dalam bumi atau gunung bisa terjadi. Kita berada di pertemuan 3 lempeng tektonik besar, dan kita juga punya banyak patahan yang aktif. Jadi, pengetahuan dan persiapan akan bencana alam menjadi penting,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.