Gajah Yatim Piatu Punya Kehidupan Sosial Lebih Keras, Ini Dampaknya

Kompas.com - 23/08/2018, 19:02 WIB
46 gajah liar berjalan melintasi Taman Teh Gangaram, sekitar 38 km dari Siliguri pada 29 November 2017. Gajah Asia terdaftar sebagai hewan yang terancam punah. Tingginya populasi manusia merusak habitat alami gajah dan mereka dipaksa pindah ke tempat lain. 46 gajah liar berjalan melintasi Taman Teh Gangaram, sekitar 38 km dari Siliguri pada 29 November 2017. Gajah Asia terdaftar sebagai hewan yang terancam punah. Tingginya populasi manusia merusak habitat alami gajah dan mereka dipaksa pindah ke tempat lain.

KOMPAS.com – Gajah merupakan salah satu hewan yang dikenal memiliki empati tinggi. Gajah hidup dalam sebuah kelompok keluarga yang sangat dekat. Saking dekat dan empati yang dimiliki oleh gajah, hewan berbelalai ini akan berduka jika melihat kerabatnya atau keluarganya yang mati.

Dengan maraknya perburuan gajah dewasa, kita dapat membayangkan bagaimana duka yang dirasakan oleh anak gajah yang ditinggal mati oleh induknya.

Dilansir dari Science Daily, Selasa (21/08/2018), sebuah penelitian yang dilakukan Colorado State University bersama dengan Save The Elephants menemukan bahwa anak gajah — khusunya anak gajah betina — yatim piatu, punya kehidupan yang lebih keras.

Anak gajah yang ditinggalkan oleh induknya akan melakukan perpindahan ke unit keluarga gajah lain. Akan tetapi perpindahan ini cenderung memberikan banyak agresi, seperti dorongan fisik.

Baca juga: Benarkah Tunggangi Gajah Bisa Bikin Cedera? Ini Kata Ahli Anatomi

Penelitian yang dipimpin oleh Shifra Goldenberg, menganalisis pola interaksi sosial anak gajah betina yatim piatu yang kehilangan induknya karena perburuan atau kematian alami. Goldenberg dan timnya melakukan penelitian ini selama lima tahun di Kenya Utara.

"Gajah hidup dalam kelompok matriarki yang memfasilitasi akses ke sumber daya terbatas seperti makanan, air, dan perlindungan,” ujar Goldenberg, yang juga seorang peneliti di Save The Elephants.

“Kami menemukan perpisahan (gajah) yatim piatudengan kerabat sedarah dapat memicu tanggungan bagi gajah muda, karena mereka berada di bawah anggota kelompok lain. Apa artinya ini bagi kelangsungan hidup dan reproduksi jangka panjang mereka tetap menjadi pertanyaan," tambahnya.

Meskipun anak gajah yang sudah yatim piatu dapat membangun jaringan sosial baru, namun sebenarnya kehidupan sosial mereka tidak sepenuhnya kembali normal.

Menurut Goldenberg, gajah betina muda dapat berinteraksi dengan gajah lain yang bukan kerabatnya. Namun, mereka kurang dapat berinteraksi dengan gajah betina dewasa.

Pada akhirnya, hal tersebut mengurangi akses gajah muda yatim piatu untuk mendapatkan makanan dan sumber daya lainnya, termasuk pertukaran informasi antar generasi dalam masyarakat gajah.

Penelitian ini juga menunjukkan dampak baru yang substansial yang disebabkan oleh perburuan gajah dewasa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X