Tembikar Ungkap Cara Manusia Purba Bertahan dari Perubahan Iklim

Kompas.com - 14/08/2018, 20:08 WIB
Catalhoyuk Drgulcu/WikipediaCatalhoyuk

KOMPAS.com – Sekitar 8.200 tahun yang lalu, pernah tercatat perubahan iklim yang luar biasa di mana bumi mendingin secara mendadak dan menyebabkan musim panas yang lebih kering dari biasanya bagi sebagian besar wilayah Bumi utara.

Dampak dari perubahan iklim tentunya sangat signifikan bagi masyarakat pada masa itu.

Sayangnya, para arkeolog hanya memperoleh sedikit kejelasan tentang bagaimana manusia pada masa neolitikum dapat bertahan hidup.

Namun, penelitian yang dipimpin oleh University of Bristol telah menemukan bukti bagaimana manusia dapat beradaptasi dengan perubahan iklim 8.200 tahun yang lalu.

Baca juga: Tak Hanya Sekarang, Perubahan Iklim Sudah Dilawan Sejak Mesir Kuno

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of National Academy of Sciences (PNAS) ini menemukan bahwa temuan sisa-sisa lemak hewan yang menempel pada tembikar salah satu dari situs tertua, Catalhoyuk, Turki, dapat memberi petunjuk bagaimana manusia zaman neolitikum mampu menghadapi perubahan iklim ekstrem.

Pada awalnya, melalui temuan tulang belulang di situs tersebut, para ilmuwan menyimpulkan bahwa para gembala di wilayah dan masa itu mengubah gembalaan mereka dari sapi ke kambing dan domba dengan alasan hewan ini lebih tahan pada situasi kekeringan.

Studi tentang tanda-tanda bekas pemotongan pada tulang hewan menerangkan bahwa pada saat peristiwa perubahan iklim terjadi, penduduk di wilayah tersebut mengeksploitasi daging ternaknya karena kelangkaan makanan.

Para peneliti juga meneliti lemak yang masih menempel pada tembikar kuno yang digunakan untuk memasak pada zaman itu. Mereka mendeteksi bahwa lemak hewan pemamah biak yang ditemukan serupa dengan kumpulan tulang hewan yang ditemukan di Catalhoyuk, yang mungkin menunjukkan adanya korelasi antara lemak dan fosil hewan yang ditemukan.

Baca juga: Pelajaran dari Manusia Arktika Kuno tentang Perubahan Iklim

Sebagai informasi, Catalhoyuk sendiri merupakan pemukiman Neolitikum di Anatolia selatan, Turki yang diperkirakan eksis pada 7.500 hingga 5.700 tahun sebelum masehi. Pada tahun 2012, UNESCO menetapkan Catalhoyuk sebagai situs warisan dunia.

Para ahli menyampaikan, ini adalah pertama kalinya lemak hewan yang ditemukan pada tembikar dapat menunjukkan bukti peristiwa perubahan iklim yang ada melalui komposisi isotopnya.

"Ini adalah pertama kalinya informasi tersebut berasal dari tembikar masak. Kami telah menggunakan sinyal yang dibawa oleh atom hidrogen dari lemak hewan yang terperangkap di dalam tembikar setelah memasak,” ujar Dr Melanie Roffet-Salque, penulis utama pada makalah ini seperti dikutip dari Science Daily.

Lebih lanjut ia mengatakan, temuan ini akan membuka jalan penelitan yang benar-benar baru tentang rekonstruksi iklim masa lalu di lokasi yang sangat tepat, di mana penduduknya menggunakan gerabah.

“Ini benar-benar signifikan bahwa model dari peristiwa iklim sepenuhnya sesuai dengan sinyal H yang kita lihat pada lemak hewan yang terawetkan di dalam pot,” pungkas Professor Richard Evershed, rekan Dr. Melanie.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X