Kompas.com - 13/08/2018, 20:36 WIB
Foto Scarlet (J50) yang diambil pada Mei 2017 dan Agustus 2018. SR3Foto Scarlet (J50) yang diambil pada Mei 2017 dan Agustus 2018.

KOMPAS.com – Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan pemandangan yang memilukan dari induk paus orca bernama Tahlequah yang membawa bangkai anaknya ratusan kilometer selama 10 hari. Tahlequah merupakan salah satu anggota dari klan J pod yang terancam punah.

Kini, para peneliti menemukan satu lagi anggota J pod yang kondisinya tidak kalah memilukan.

Ia adalah Scarlet, seekor paus pembunuh atau orca betina berusia 3 tahun. Bersama dengan anggota J Pod yang lain, Scarlet menghabiskan musim panasnya dengan berburu salmon di perairan sekitar Vancouver, Canada, dan sebelah utara Washington.

Dilansir dari Live Science, saat tim dari  National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengamati Tahlequah, Scarlet, dan anggota dari J pod yang lain; para peneliti dari lembaga tersebut menyoroti kondisi Scarlet yang terlihat memprihatinkan—kurus dan lesu.

Baca juga: Foto Memilukan Tampilkan Induk Orca yang Tak Rela Anaknya Mati

Mereka berasumsi bahwa kondisi Scarlet disebabkan oleh sebuah penyakit. Masalahnya, sampel napas yang didapat tidak menunjukkan adanya penyakit atau infeksi pada Scarlet.

Meskipun demikian, para ilmuwan sepakat bahwa Scarlet dalam kondisi yang buruk dan mungkin tidak dapat bertahan lebih lama.

Sayangnya, para ilmuwan tidak bisa berbuat apa-apa. Menurut laporan NOAA, kelompok paus J Pod belum terlihat sejak Sabtu, 04 Agustus 2018 lalu.

Michael Milstein, juru bicara NOAA, berkata bahwa tim pemantau menemui tantangan dari alam (seperti kabut) dalam mengamati kelompok paus ini, tetapi mereka tetap berusaha mencari dan siap menunggu.

Baca juga: World Orca Day, Mengenal Paus Pembunuh, Si Predator Puncak di Samudera

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak termasuk nelayan wilayah sekitar. Para nelayan telah mempelajari teknik khusus untuk menangkap ikan salmon, kemudian menjaga kualitas ikan agar tetap hidup, untuk memicu nafsu makan orca liar.

Mereka berencana membawa salmon yang baru ditangkap langsung ke kawanan paus orca dan memberi mereka makan langsung dari dek kapal. Akan tetapi, tidak ada jaminan cara ini akan berhasil.

Lynne Barre, ahli biologi dari NOAA, menawarkan opsi lain, yaitu dengan memberikan antibiotik yang tahan lama ke Scarlet untuk menjaga kondisi tubuh paus betina tersebut. Namun, mendapatkan jarak yang cukup dekat untuk memberikan antibiotik secara aman dan efektif adalah tantangan yang lain.

Scarlet yang seharusnya berada pada masa subur bisa menjadi petanda buruk bagi populasi paus orca, mengingat keberadaan mereka sangat diperjuangkan. Menurut data NOAA, pada tahun 1995 di wilayah tersebut terdapat 95 ekor paus pembunuh, namun saat ini hanya tersisa 75 ekor saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Mengenal Pap Smear, Prosedur untuk Mendeteksi Kanker Serviks

Kita
Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Perbedaan Bioma Stepa dan Sabana

Oh Begitu
Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Cumi-cumi yang Berenang di Laut Terdalam di Dunia Ditemukan di Filipina

Oh Begitu
Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Seismograf, Penemuan Alat Deteksi Gempa yang Pertama Kali Digunakan di China

Oh Begitu
Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Mengapa Letusan Gunung Berapi Tonga Sangat Besar dan Menimbulkan Tsunami? Ahli Jelaskan

Fenomena
Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Mengenal Egg Freezing, Prosedur yang Dijalani Luna Maya untuk Memiliki Anak

Oh Begitu
Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Ketahui Gejala Omicron yang Sering Muncul dan Cara Mencegah Penularannya

Oh Begitu
Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Panda Hanya Makan Bambu, Mengapa Tubuh Panda Tetap Besar?

Oh Begitu
Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Asteroid Besar Akan Melintas Dekat Bumi Awal Februari, Apakah Berbahaya?

Fenomena
Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.