Kompas.com - 31/07/2018, 20:05 WIB
Merayakan Global Tiger Day 2018 dengan diskusi publik mengenai pentingnya melindungi hewan dengan cara toys photography Merayakan Global Tiger Day 2018 dengan diskusi publik mengenai pentingnya melindungi hewan dengan cara toys photography

KOMPAS.com – Angka populasi harimau di Indonesia diperkirakan ada 600 ekor. Jumlah tersebut meningkat dari estimasi sebelumnya.

Akan tetapi, angka ini merupakan jumlah dari estimasi tempat yang sebelumnya tidak diperhitungkan. Artinya, angka ini bisa saja bukan meningkat, tapi sekadar berbeda dari yang sebelumnya.

Menurut Sunarto, ahli Ekologi yang ditemui pada  Diskusi Fotografi untuk merayakan Global Tiger Day 2018, di Jakarta, Senin (30/07/2018), dalam periode sekitar seabad yang lalu, populasi harimau diperkirakan ada 100.000 ekor dengan persebaran yang sangat luas.

Kemudian pada 2010, populasi harimau tinggal 4.000 dan habitatnya berkurang tujuh persen.

Baca juga: Sekitar 7.000 Harimau Dijadikan Hewan Peliharaan di AS, Ini Dampaknya

“Nah kalau kita ingin harimaunya selamat, secara ekologi, secara biologi, kita sudah hitung, mau tidak mau populasinya harus ditingkatkan. Karena dengan populasi 4.000 dengan usaha apapun, dia akan terus berkurang. Jadi harus ada upaya yang drastis,” ujarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurunnya populasi harimau disebabkan oleh adanya rantai kebutuhan manusia di mana harimau paling terancam oleh perburuan. Kemudian, perburuan didorong oleh perdagangan dan perdagangan didorong oleh kebutuhan.

Pelbagai cara yang dilakukan saat ini dirasa Sunarto tidak cukup untuk melindungi kucing besar bercorak hitam kuning ini.

“Kalo kita mau menghentikan perburuan, patroli tidak cukup. Patroli orang-orang kewalahan mungutin jerat. Dan banyak jerat yang enggak ketemu. Pengenalan hukum pun tidak efektif, banyak yang tidak tertangkap dan terdeteksi,” terangnya.

Baca juga: Mengenal Kucing Emas, Hewan Langka Keluarga Harimau

Sunarto mengatakan, perlu adanya integrated protection untuk melindungi eksistensi harimau. Bercermin dari negara Thailand, ia menjelaskan bahwa negara tersebut mencoba membandingkan tim yang hanya berjaga saja dan tim yang melakukan pendekatan dengan masyarakat. Ternyata, yang lebih efektif melakukan pendekatan dengan masyarakat.

Masyarakat sekitar habitat harimau diyakini dapat membantu untuk mencegah para pemburu harimau masuk ke dalam hutan.

Sunarto berharap pada tahun 2022—yang merupakan tahun macan dalam tradisi China—populasi harimau meningkat hingga 6.400 ekor. Dalam jumlah tersebut, ia ingin Indonesia bersumbangsih angka yang cukup besar.

“Indonesia idealnya menyumbangkan dua kali lipatnya juga, tapi karena Indonesia dulu tahun 2010 termasuk paling parah laju kerusakan hutannya, kita bisa mempertahankan saja sudah hebat. Idealnya, kalau kita bisa meningkatkan 700 dan itu sudah (angka) solid bukan asumsi atau kira-kira, itu sudah bagus,” jelas Sunarto.

Lebih dari itu, ia menambahkan bahwa yang terpenting bukan angka individu, tetapi juga struktur lanskapnya, dan jenis kelaminnya.

“Buat apa punya 700 tapi jantan semua, jadi balance juga penting. Kemudian tingkat ancaman. Kalau kita punya 700 tapi ancaman lebih tinggi, kemudian konflik meningkat, itu akan menjadi bumerang juga. Jadi kita ingin peningkatan yang sehat,” pungkas Sunarto.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.