Selain Gaya Hidup, Polusi Udara Terbukti Picu Perkembangan Diabetes

Kompas.com - 01/07/2018, 20:03 WIB
Suasana jalan di New Delhi yang diselimuti kabut tebal akibat polusi terparah, Selasa (7/11/2017). (AFP/Prakash Singh) Suasana jalan di New Delhi yang diselimuti kabut tebal akibat polusi terparah, Selasa (7/11/2017). (AFP/Prakash Singh)


KOMPAS.com - Menurut penelitian terbaru, polusi udara bertanggung jawab atas satu dari tujuh kasus diabetes baru di tahun 2016.

Umumnya diabetes muncul karena gaya hidup, terutama pola makan dan kurang bergerak.

Namun, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St Louis, AS, membuktikan polusi udara juga berperan besar akan munculnya diabetes.

Ahli menegaskan, sekecil apapun tigkat polusi udara tetap dapat mengembangkan penyakit kronis tersebut.

Baca juga: Hampir Semua Pohon di Eropa Malnutrisi karena Polusi Udara

Diwartakan AFP, Sabtu (30/6/2018), studi tersebut memperkirakan bahwa polusi udara berkontribusi pada 3,2 juta kasus diabetes baru secara global pada 2016, atau sekitar 14 persen dari semua kasus diabetes baru di tahun itu.

"Penelitian kami menunjukkan hubungan yang signifikan antara polusi udara dan diabetes secara global," kata Ziyad Al-Ay, penulis senior studi tersebut.

Al-Ay dan timnya menemukan polusi udara dapat mengurangi produksi insulin di dalam tubuh.

Artinya, polusi udara mencegah tubuh untuk mengubah glukosa menjadi energi yang dibutuhkan tubuh.

Dalam laporan yang terbit di Lancet Planetary Health, mereka menemukan ada peningkatan risiko diabetes meski manusia tinggal di lingkungan dengan tingkat polusi udara yang dianggap aman oleh Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) AS dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Ini penting, sebab banyak kelompok industri berpendapat bahwa patokan level (polusi udara) saat ini terlalu ketat dan mestinya bisa lebih santai. Nyatanya, bukti menunjukkan level saat ini masih belum cukup aman dan perlu diperketat," imbuhnya.

Bukti keterkaitan polusi udara dengan diabetes

Al-Ay dan timnya bekerja sama dengan para ilmuwan dari Pusat Epidemiologi Klinik Veteran dalam memeriksa 1,7 veteran AS yang tidak memiliki riwayat diabetes. Rata-rata para peserta telah dipantau selama 8,5 tahun.

Informasi dari para veteran kemudian dibandingan dengan data kualitas udara untuk memeriksa hubungan antara diabtes dan polusi udara.

Dari sini, mereka menemukan adanya risiko diabetes erat hubungannya dengan polusi udara.

Ahli telah merancang sebuah model untuk mengukur risiko diabetes atas tingkat polusi yang berbeda dengan menggunakan data dari studi Global Burden of Disease tahunan di seluruh dunia. Data ini untuk memperkirakan prevalensi diabetes yang disebabkan udara buruk.

Baca juga: Polusi Udara, Pembunuh Senyap di Ibu Kota

Diabetes dialami lebih dari 420 juta orang di seluruh dunia dan menjadi salah satu penyakit yang paling cepat berkembang di dunia.



Close Ads X