Kompas.com - 17/05/2018, 04:03 WIB
Penampakan hilal di atas cakrawala yang menjadi penentu perhitungan awal Ramadan KOMPAS.COM/BMKGPenampakan hilal di atas cakrawala yang menjadi penentu perhitungan awal Ramadan

Upaya memperoleh data rukyat hilal yang sahih

Banyaknya kendala tak menghalangi para perukyat dari Indonesia dan mancanegara untuk memperoleh data rukyat hilal yang sahih dan dapat dipercaya.

Di Indonesia, upaya ini salah satunya dilakukan oleh jejaring RHI, yang bernaung di bawah Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI).

Jejaring mandiri yang tidak bekerja sama dengan organisasi apapun itu telah melakukan pemantauan rukyat hilal dan hilal tua sesuai kaidah astronomi sejak 2007. Ma'rufin menyebut kegiatan ini tak hanya dilakukan jelang Ramadhan atau hari raya saja.
 
Selain jejaring RHI, Observatorium Bosscha yang ada di Lembang, Bandung, juga melaksanakan hal serupa sejak 2008 di berbagai titik segenap penjuru Indonesia. Namun, kegiatan ini dilakukan saat menjelang Ramadhan dan hari raya saja.

Di mancanegara, upaya serupa digelar ICOP, yang berada di bawah naungan AUASS (Arab Union for Astronomy and Space Sciences) dan JAS (Jordanian Astronomical Society). Pengamatan ICOP sudah dilakukan sejak 1998, dan mengumpulkan 737 data rukyat dari Arab, Asia Tenggara, Eropa, dan AS sampai 2013.

Baca juga: Rupanya Ada yang Disebut Hilal Tua dan Muda, Apa Bedanya?

Satu dekade sebelum ICOP, Bradley Schaefer (AS) telah menginisiasi Moonwatch Campaign dalam lima kesempatan berbeda di kawasan Amerika Utara yang melibatkan lebih dari 2.000 perukyat. Mereka berhasil mengumpulkan 294 data.

Semua data yang berhasil dikumpulkan oleh masing-masing pihak kemudian diakumulasi. Sayang, hasilnya masih tergolong kecil dibanding pengamatan benda langit selain hilal.

Sebagai contoh, pengamatan asteroid 2012 DA14 yang melintasi bumi pada 15 Februari 2013 dengan jarak 27.700 kilometer.

Sejak ditemukan pada Februari 2012, para pemburu asteroid berlomba-lomba mengarahkan teleskopnya membidik asteroid ini selama setahun dan berhasil mengumpulkan 1.068 data pengamatan. Padahal, pengamatan asteroid lebih sulit dibanding rukyat hilal.

Ma'rufin sendiri mempertanyakan mengapa pengumpulan data asteroid dengan rukyat hilal sangat jauh perbedaannya.

Baca juga: Hilal dalam Masa Depan Bumi dan Bulan

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X