Kompas.com - 23/03/2018, 19:35 WIB
Peluncuran misi Formosat-5 pada Agustus 2017 dari Vandenberg Air Force Base, California. SpaceXPeluncuran misi Formosat-5 pada Agustus 2017 dari Vandenberg Air Force Base, California.

KOMPAS.com – Pada umumnya, orang-orang membayangkan bahwa roket bergerak vertikal menuju orbit. Faktnya, tidak lama setelah diluncurkan, kebanyakan roket akan bermanuver sampai hampir paralel dengan permukaan bumi untuk mengurangi tekanan gravitasi sebelum melepaskan muatannya ke orbit.

Namun, bukan ini yang dilakukan oleh roket Space X, Falcon9, pada tahun lalu. Dalam misi Formosat-5, roket yang membawa beban ringan dari Taiwan seberat 475 kilogram tersebut terus meluncur secara vertikal di ionosfer sebelum mencapai tujuannya pada ketinggian 720 kilometer.

Akibat kejadian ini, plasma ionosfer kita sempat berlubang, ungkap para peneliti dalam makalah baru yang dipublikasikan di Space Weather.

Baca juga : Roket Terkuat di Dunia Bisa Bawa Mobil ke Luar Angkasa

Para peneliti menjelaskan bahwa roket misi Formosat-5 mencapai ketinggan 300 kilometer dalam lima menit karena bergerak vertikal. Ini menyerupai letusan gunung berapi.

Gerakan ini tidak menciptakan gelombang kejut berbentuk V pada ionosfer yang biasanya ditinggalkan oleh roket dan misil, melainkan sebuah gelombang kejut berbentuk lingkaran yang luasnya 1,8 juta kilometer persegi. Ini merupakan gelombang kejut lingkaran terbesar yang disebabkan oleh roket dalam sejarah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa menit kemudian, sebuah lubang terbuka selama dua hingga tiga jam pada plasma ionosofer. Dengan diameter 900 kilometer, lubang ini seperti badai magnet lokal dan menyebakan gangguan sementara pada program navigasi GPS sejauh satu meter.

Meskipun terdengar mengerikan, fenomena ini bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan untuk saat ini.

Baca juga : Benarkah Bantuan Elon Musk akan Jadi Kunci Pendaratan Manusia di Mars?

Charles CH Lin dari National Cheng Kung University di Taiwan yang memimpin studi ini berkata bahwa gangguan pada ionosofer atau troposfer dan faktor-faktor lain telah berkali-kali menimbulkan gangguan pada navigasi GPS hingga sejauh 20 meter.

Akan tetapi, semakin sering dan semakin besarnya peluncuran roket di masa depan harus menjadi perhatian khusus.

Lin mengatakan, manusia memasuki era di mana peluncuran roket menjadi semakin umum dan sering karena berkurangnya biaya roket yang bisa dipakai kembali. Sementara itu, kita terus mengembangkan roket yang lebih kuat untuk mengirim kargo ke planet lain.

“Dua faktor ini akan semakin memengaruhi atmosfer tengah dan atas. Ini adalah sesuatu yang harus jadi perhatian,” katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Bukan Isap Serbuk Sari, Spesies Lebah Ini Berevolusi Makan Daging

Oh Begitu
Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Ameer Azzikra Meninggal Dunia karena Pneumonia, Begini Cara Mencegah Penyakit Ini

Oh Begitu
5 Ras Kucing Paling Pintar di Dunia

5 Ras Kucing Paling Pintar di Dunia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.