Melongok Interaksi Tanpa Sekat di Kompleks Kusta Kampung Jongaya

Kompas.com - 20/03/2018, 18:06 WIB
Kampung Jongaya , kompleks kusta di Makassar Shela KusumaningtyasKampung Jongaya , kompleks kusta di Makassar

MAKASSAR, KOMPAS.com - Di Kota Makassar, terdapat sebuah kawasan yang mencontohkan interaksi yang berjalan baik antar para penghuninya. Pasalnya, di kawasan ini bermukim pasien kusta dan warga yang tidak terkena kusta.

Namanya Kampung Jongaya di Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate. Untuk memasuki kompleks ini, gapura bercat merah akan menyambut para pengunjung. Jalanan berpaving memisahkan rumah-rumah petak yang berdiri di kanan kirinya.

Menurut penuturan ketua RW setempat, Muh. Sakir. Dg Tala, dulunya kawasan ini merupakan tanah yang dihibahkan para Raja Bone dan Gowa. Keturunan bangsawan kala itu memikirkan nasib para penderita kusta yang tidak memiliki tempat tinggal untuk bernaung. Umumnya, para pasien kusta dikucilkan dari keluarganya karena dianggap menderita penyakit kutukan.

Kampung JongayaShela Kusumaningtyas Kampung Jongaya

Baca juga : Perjuangan Dokter Tangani Kusta, Lewati Pematang hingga Ditolak Pasien

“Tempat ini sudah ada sekitar 90 tahunan lebih. Awalnya untuk menampung penderita kusta yang diasingkan,” ujarnya pada Minggu (18/3/2018).

Hal ini pun dibenarkan penggiat Perhimpunan Mandiri Kusta yang juga menghuni rumah di Kampung Jongaya, Al Qadri. Al Qadri berkata bahwa wilayah ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Mulanya menjadi bagian milik rumah sakit yang melayani kusta.

Di kampung ini, kata Sakir, terdapat sekitar 800 kepala keluarga yang yang terbagi dalam 9 RT. Kebanyakan dari mereka memang para pengidap kusta ataupun mantan penderita kusta yang datang dari berbagai wilayah di Sulawesi Selatan, tetapi ada juga warga yang tidak terkena kusta bertempat tinggal di sini.

Kampung JongayaShela Kusumaningtyas Kampung Jongaya

 

Kompas.com pun mengamati interaksi yang berlangsung di sana. Warga saling sapa dan tidak ragu untuk berinteraksi jarak dekat satu sama lain. Mereka pun umumnya mengenal nama satu sama lain.

Baca juga : Kisah Ernawati Menaklukkan Kusta yang Menggerogoti Tubuhnya

Balai warga yang terbuat dari bambu dan papan kayu juga disinggahi para ibu-ibu yang asyik mengobrol dan anak-anak kecil ramai berkerumun untuk bermain.

“Di sini sudah tidak ada diskriminasi. Apalagi penghuni di sini umumnya ada keluarga yang punya kusta,” ujar Sakir.

Kampung JongayaShela Kusumaningtyas Kampung Jongaya

Sakir sendiri mendiami kampung ini sejak kecil, saat ini usianya 52 tahun. Sang ayah yang asal Sinjai terpaksa pindah ke Kampung Jongaya lantaran mendapatkan diskriminasi akibat kusta yang diderita. Pertemuan dengan sang ibu yang juga pasien kusta juga berlangsung di Kampung Jongaya.

Markomah (53 tahun) warga yang ditemui tengah bersantai di teras rumahnya ini mengaku telah tiga puluh tahun berdomisili di Kampung Jongaya.

Baca juga : Pria Jepang Sentuh Penderita Kusta di Gowa untuk Hapus Stigma

Perasaan takut tertular penyakit tidak bisa dia tutupi saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung tersebut. Sang suami yang bekerja di rumah sakit kusta mengharuskannya tinggal di sana. Namun, perasaan takut itu bisa dia tepis dengan cara mengubur pikiran tentang kusta sebagai penyakit menular.

Kampung JongayaShela Kusumaningtyas Kampung Jongaya

“Lama-lama ya sudah hilang itu takutnya. Dulu sempat bingung karena khawatir rasa takut ini terlihat jadi menyinggung perasaan warga dengan kusta. Sekarang sih sudah berbaur,” ujarnya.

Markomah telah terbiasa bertetangga dengan mantan penderita atau pasien kusta. Ini lantaran pemahaman warga mengenai kusta sudah ditanamkan lewat agenda rutin seperti pertemuan ibu-ibu dan rapat RT.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Kena Cahaya Bulan, Tubuh Tokek Gurun Ini Jadi Hijau Neon

Fenomena
CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X