Mengenang Stephen Hawking, dari Topik Bumi Datar hingga Peran Tuhan

Kompas.com - 14/03/2018, 18:44 WIB

Apakah berarti Hawking ateis? Lebih gamblang disimak di film Theory of Everything yang hadir di layar lebar pada 2014, Hawking terlihat tetap percaya Tuhan.

Namun, dia berpendapat seorang fisikawan seperti dirinya harus bisa membuat garis batas, “Seorang ahli fisika tidak boleh membiarkan perhitungannya campur aduk dengan sebuah kepercayaan tentang pencipta supernatural,” ujar dia pada menit ke-14 di film itu.


Meski begitu, Hawking berkali-kali tetap menyinggung ruang peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta di buku Riwayat Sang Kala. Meskipun, antara lain pada 2010, Hawking juga “memperbaiki” penjelasannya soal arti Tuhan buat dirinya dan terkait penciptaan semesta itu.

Hawking, saat menjelaskan Teori M yang kemudian dikenal sebagai teori tentang segalanya (theory of everything), menyebut tak ada yang bisa menyanggah keberadaan Tuhan. Namun, lanjut dia, temuan sains membuat keberadaan Tuhan tak lagi diperlukan terkait penjelasan mengenai asal mula jagat raya.

Pernyataan Hawking pada 2010 soal Tuhan dan alam semesta tersebut dapat disimak salah satunya pada menit ke-7 dari video yang diunggah di YouTube ini:

Mimpi soal perjalanan waktu yang sering muncul dalam novel dan film fiksi pun menurut Hawking adalah keniscayaan. Ada hitungan rumitnya, tapi Hawking bisa bercerita menggunakan bahasa populer yang renyah untuk menyuguhkan pemikirannya soal pemaknaan waktu berdasarkan teori relativitas umum yang digagas Einstein dan temuan-temuannya sendiri.

Buah pikiran Hawking juga meledakkan temuan-temuan lanjutan—termasuk dari ilmuwan lain—soal mekanika kuantum, partikel Tuhan—yang konfirmasinya mendapat Nobel Fisika pada 2017—dan sejumlah lompatan lain terkait ilmu fisika.

(Baca juga: Bukti Ramalan Einstein Seabad Lalu Raih Nobel Fisika 2017)

Meski begitu, Hawking tetaplah juga hanya manusia biasa. Laki-laki biasa. Dia mengalami puber, bersenang-senang laiknya remaja laki-laki, jatuh cinta, menikah, punya anak, jatuh hati pada perempuan lain, bercerai, lalu berdamai kembali dengan keluarga dan cinta pertamanya. Hawking juga bisa menangis, merasa rapuh, pun congkak dengan kemampuannya.

Karena dia manusia biasa, kematian jelas niscaya datang kepadanya. Soal kepastian mati, Hawking dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa dia tak takut dengan kematian. Yang dia takuti justru adalah sekarat. Menurut Hawking, tak ada alasan buat manusia takut pada kematian dan kegelapan sesudah itu.

Pada dini hari ini, Rabu (14/3/2018), Hawking meninggal. Apakah pernyataannya tentang kematian dan Tuhan terbukti?

Kali ini tak akan ada lagi penjelasan Hawking soal itu. Mungkin suatu ketika kita akan bertemu kembali dengan dia dan saling mendapati jawaban yang tepat atas arti Tuhan, waktu, dan kematian ini. Atau mungkin tidak.

Apa pun itu, rest in peace, Sir....

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X