Mengenang Stephen Hawking, dari Topik Bumi Datar hingga Peran Tuhan - Kompas.com

Mengenang Stephen Hawking, dari Topik Bumi Datar hingga Peran Tuhan

Kompas.com - 14/03/2018, 18:44 WIB
Artis pasir Sudarsan Patnaik, Rabu (14/3/2018), memberikan sentuhan terakhir untuk karyanya yang dibuat sebagai penghargaan kepada Stephen Hawking, fisikawan yang meninggal pada hari tersebut di London, Inggris. Karya ini dibuat di India.AFP PHOTO/ASIT KUMAR Artis pasir Sudarsan Patnaik, Rabu (14/3/2018), memberikan sentuhan terakhir untuk karyanya yang dibuat sebagai penghargaan kepada Stephen Hawking, fisikawan yang meninggal pada hari tersebut di London, Inggris. Karya ini dibuat di India.

DEG. Stephen Hawking meninggal. Sedetik berasa waktu berhenti, harfiah. Bahwa kematian adalah pasti, tetapi yang satu ini adalah “sesuatu”. Setelah Albert Einstein, Hawking barangkali adalah fisikawan terbesar abad modern yang paling banyak membuat saya menengok.

Jauh-jauh hari sebelum ranah media sosial di Indonesia berisik dengan perdebatan soal Bumi datar, Hawking sudah menulis buku yang gampang banget “ditelan” bahkan oleh orang awam, yang isinya antara lain menebas logika Bumi datar tersebut.

Judul bukunya dalam bahasa Inggris adalah A Brief History of Time—terbit pada 1988—, versi bahasa Indonesia-nya menggunakan judul Riwayat Sang Kala dan meluncur pada 1994. Bab I buku itu, Gambaran Kita Mengenai Jagat Raya, sudah langsung menelanjangi logika Bumi datar.

(Baca juga: Tesis Ilmiah Stephen Hawking Kini Bisa Diunduh Gratis)

Penjelasannya dimulai dari cerita sanggahan perempuan tua dalam suatu forum yang membahas astronomi, rotasi Bumi mengitari Matahari, dan galaksi. Di situ, perempuan itu menyebut Bumi tidak lebih dari permukaan datar punggung kura-kura.

“Banyak orang akan menganggap agak tidak masuk akal bahwa jagat raya ini digambarkan sebagai menara kura-kura yang tidak terhingga banyaknya. Namun, mengapa kita merasa lebih tahu? ... Tahun 340 SM, dalam bukunya Mengenai Langit, filsuf Yunani Aristoteles mampu mengemukakan dua argumen yang baik untuk meyakinkan orang bahwa Bumi berupa bola yang bulat, bukannya piring mendatar,” tulis Hawking soal perdebatan Bumi datar.

Tulisan pada bab pertama buku itu merinci lebih lanjut argumentasi yang menyanggah logika Bumi datar. Sekali lagi, disuguhkan dalam “bahasa manusia” yang sama sekali tidak menyebut rumus njelimet.

Sampul buku Riwayat Sang Kala karya Stephen Hawking, versi terjemahan dari buku The Brief History of Time. Foto diambil pada Rabu (14/3/2018)KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI Sampul buku Riwayat Sang Kala karya Stephen Hawking, versi terjemahan dari buku The Brief History of Time. Foto diambil pada Rabu (14/3/2018)

Sesuai janjinya di halaman ucapan terima kasih, Hawking menyingkirkan semua rumus matematika dan fisika dari bukunya yang ini, dengan satu perkecualian tak terhindarkan untuk rumus kesetaraan energi dan massa milik Einsten, E=mc2. Rumus tersebut muncul di halaman 24 dalam buku versi bahasa Indonesia.

Tentu, Hawking tidak menggunakan energi dan pikirannya yang terkurung keterbatasan fisik luar biasa hanya untuk berdebat soal Bumi Datar.

Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) yang melumpuhkan seluruh otot motorik penderitanya, menjadi penyakit yang membatasi fisik pemilik otak teramat cemerlang ini. Sebutan lain untuk penyakit Hawking adalah motor neurone disease (MND) atau Lou Gehrig’s disease.

Topik Bumi datar mau tak mau muncul dalam bahasan Hawking karena yang dia bahas adalah soal alam semesta. Tentu saja, Bumi merupakan bagian dari bahasan ini.

Teori ledakan besar (big bang) yang menjelaskan awal mula terjadinya alam semesta adalah hasil pemikiran Hawking yang dia temukan bersamaan dengan awal penyakit tersebut mulai melumpuhkannya pada 1963. Teorinya menggenapi temuan sebelumnya di ilmu fisika soal lubang hitam (black hole).

“Dari mana jagat raya ini? Bagaimana dan mengapa jagat raya berawal? Akankah jagat raya menemui akhir, jika ya bagaimana caranya?” 

Sederet pertanyaan panjang itu menurut Hawking sejatinya diajukan banyak orang. Masalahnya, kata dia, tak banyak yang memikirkannya lebih dalam apalagi merumuskannya secara matematis dan membuat pemodelannya. Bahkan, cerita soal alam semesta pun menurut dia kerap terbelenggu lalu mandek di batas dogma agama.

Apakah berarti Hawking ateis? Lebih gamblang disimak di film Theory of Everything yang hadir di layar lebar pada 2014, Hawking terlihat tetap percaya Tuhan.

Namun, dia berpendapat seorang fisikawan seperti dirinya harus bisa membuat garis batas, “Seorang ahli fisika tidak boleh membiarkan perhitungannya campur aduk dengan sebuah kepercayaan tentang pencipta supernatural,” ujar dia pada menit ke-14 di film itu.


Meski begitu, Hawking berkali-kali tetap menyinggung ruang peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta di buku Riwayat Sang Kala. Meskipun, antara lain pada 2010, Hawking juga “memperbaiki” penjelasannya soal arti Tuhan buat dirinya dan terkait penciptaan semesta itu.

Hawking, saat menjelaskan Teori M yang kemudian dikenal sebagai teori tentang segalanya (theory of everything), menyebut tak ada yang bisa menyanggah keberadaan Tuhan. Namun, lanjut dia, temuan sains membuat keberadaan Tuhan tak lagi diperlukan terkait penjelasan mengenai asal mula jagat raya.

Pernyataan Hawking pada 2010 soal Tuhan dan alam semesta tersebut dapat disimak salah satunya pada menit ke-7 dari video yang diunggah di YouTube ini:

Mimpi soal perjalanan waktu yang sering muncul dalam novel dan film fiksi pun menurut Hawking adalah keniscayaan. Ada hitungan rumitnya, tapi Hawking bisa bercerita menggunakan bahasa populer yang renyah untuk menyuguhkan pemikirannya soal pemaknaan waktu berdasarkan teori relativitas umum yang digagas Einstein dan temuan-temuannya sendiri.

Buah pikiran Hawking juga meledakkan temuan-temuan lanjutan—termasuk dari ilmuwan lain—soal mekanika kuantum, partikel Tuhan—yang konfirmasinya mendapat Nobel Fisika pada 2017—dan sejumlah lompatan lain terkait ilmu fisika.

(Baca juga: Bukti Ramalan Einstein Seabad Lalu Raih Nobel Fisika 2017)

Meski begitu, Hawking tetaplah juga hanya manusia biasa. Laki-laki biasa. Dia mengalami puber, bersenang-senang laiknya remaja laki-laki, jatuh cinta, menikah, punya anak, jatuh hati pada perempuan lain, bercerai, lalu berdamai kembali dengan keluarga dan cinta pertamanya. Hawking juga bisa menangis, merasa rapuh, pun congkak dengan kemampuannya.

Karena dia manusia biasa, kematian jelas niscaya datang kepadanya. Soal kepastian mati, Hawking dalam beberapa kesempatan menyatakan bahwa dia tak takut dengan kematian. Yang dia takuti justru adalah sekarat. Menurut Hawking, tak ada alasan buat manusia takut pada kematian dan kegelapan sesudah itu.

Pada dini hari ini, Rabu (14/3/2018), Hawking meninggal. Apakah pernyataannya tentang kematian dan Tuhan terbukti?


Kali ini tak akan ada lagi penjelasan Hawking soal itu. Mungkin suatu ketika kita akan bertemu kembali dengan dia dan saling mendapati jawaban yang tepat atas arti Tuhan, waktu, dan kematian ini. Atau mungkin tidak.

Apa pun itu, rest in peace, Sir....

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Komentar
Close Ads X