Matahari Meredup pada 2050, Apa Efeknya bagi Pemanasan Global?

Kompas.com - 13/02/2018, 17:04 WIB
Sun/Getttyimages Sun/GetttyimagesSun/Getttyimages

KOMPAS.com -- Sebuah studi yang dipublikasikan pada 2017 memprediksikan bahwa suhu matahari akan meningkat 90 persen pada tahun 2100, dan suhu global akan meningkat dari 2 derajat menjadi 4,9 derajat. 

Namun, Dan Lubin, fisikawan dari Scripps Institution of Oceanography, justru berkata sebaliknya.

Bersama timnya di University of California San Diego, Lubin menemukan bahwa suhu global akan turun pada 2050. Pada saat itu, matahari akan menjadi lebih redup dan suhunya berkurang tujuh persen dari titik terendah biasanya dalam siklus 11 tahunan.

Baca Juga: Hutan Ini Jadi Berbunga-bunga karena Perubahan Iklim, Bagaimana Bisa?

Fenomena Grand Minimum ini, kata para peneliti, berpotensi menyerupai Zaman Es Mini yang terjadi di Eropa pada pertengahan abad ke-17.

Sekilas, fenomena ini terdengar seperti solusi alami untuk perubahan iklim. Akan tetapi, para ahli khawatir bila fenomena ini malah menyebabkan permukaan laut naik secara drastis, banjir, dan kepunahan spesies.

Namun, Lubin berpendapat bahwa fenomena ini hanya akan memiliki sedikit efek karena jumlah gas rumah kaca di atmosfer lebih besar.

Baca Juga: Teori Baru, Bumi Terbentuk karena Perubahan Kimia Aneh

"Efek fenomena matahari hanya memperlambat pemanasan global, tetapi tidak akan menghentikan perubahan iklim akibat ulah manusia," kata Lubin dikutip dari Techtimes, Minggu (11/2/2018).

Temuan yang dimuat di Astrophysical Journal Letters tersebut juga menjelaskan bahwa secara keseluruhan, efek penurunan suhu bumi akibat Grand Minimum hanya 0,25 persen dalam kurun waktu 50 tahun, dimulai pada tahun 2020. Hal ini akan membuat suhu rata-rata di permukaan Bumi mendingin sebesar sepersepuluh derajat Celsius.

Akan tetapi simulasi juga menunjukkan bahwa matahari akan kembali memanas pada 2070. Artinya, fenomena matahari ini hanya bersifat memperlambat pemanasan global.



Sumber Techtimes
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

CDC: Varian Baru Virus Corona Inggris Mungkin Mendominasi pada Maret

Oh Begitu
Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Laut Makin Asam, Gurita Kembangkan Adaptasi Baru untuk Bertahan Hidup

Oh Begitu
9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

9 Syarat Penerima Vaksin dalam Program Vaksinasi Covid-19

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

[POPULER SAINS] Hoaks BMKG Imbau Warga Tinggalkan Mamuju | Kota yang Hilang karena Erupsi Gunung di Lombok

Oh Begitu
BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

BMKG: Banjir Manado Bukan Tsunami, tapi Waspadai Potensi Gelombang Tinggi

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Letusan Gunung Berapi Awal Zaman Kapur Picu Pengasaman Laut

Fenomena
Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Laut Dalam Pantai Australia Dihuni Spesies Porifera Karnivora Ini

Fenomena
[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

[HOAKS] Gempa Mamuju, BMKG Bantah Intruksikan Warga Tinggalkan Mamuju

Fenomena
NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

NASA dan Boeing Uji Roket Superkuat untuk Misi Artemis ke Bulan

Fenomena
Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Banjir Kalimantan Selatan, Warga Diimbau Tetap Waspada Hujan 3 Hari ke Depan

Fenomena
Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Oh Begitu
Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Lagi, Gempa Bumi Ke-39 Kali Guncang Majene dan Mamuju

Oh Begitu
BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

BMKG Ungkap 2 Penyebab Banjir Manado yang Tewaskan 6 Orang

Oh Begitu
BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

BMKG: Banjir Kalimantan Selatan Akibat Cuaca Ekstrem Dipicu Dinamika Atmosfer Labil

Oh Begitu
Cara Mudah Meningkatkan Metabolisme dan Menurunkan Berat Badan

Cara Mudah Meningkatkan Metabolisme dan Menurunkan Berat Badan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X