Kontrasepsi Khusus Pria Ini Terinspirasi dari Panah Beracun di Afrika

Kompas.com - 19/01/2018, 07:08 WIB
Ilustrasi sperma EraxionIlustrasi sperma
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Bila dibandingkan dengan alat kontrasepsi perempuan yang banyak pilihannya, pria hanya memiliki dua pilihan, yaitu kondom atau vasektomi.

Sebetulnya penelitian tentang kontrasepsi pria sudah dilakukan bertahun-tahun, tetapi belum ada hasil nyata. Pasalnya, menciptakan kontrasepsi baru yang aman dan teruji klinis tidak mudah dan membutuhkan waktu yang panjang.

Penelitian terbaru tentang ramuan kuno di Afrika tampaknya bisa menjadi harapan baru bagi pria yang ingin menggunakan alat kontrasepsi.

Kunci dari ramuan ini adalah ouabain, zat di dalam ekstrak tumbuhan yang digunakan pejuang dan pemburu Afrika sebagai racun di panah mereka untuk menghentikan detak jantung korbannya.

Baca Juga: Kontrasepsi Gel Pria Pertama di Dunia Segera Diuji Coba Tahun Ini

Sebetulnya, mamalia juga memproduksi zat ini di tubuh mereka dalam dosis rendah untuk mengendalikan tekanan darah. Dokter juga terkadang memberikan meresepkan zat tersebut dalam dosis kecil untuk mengobati pasien serangan jantung.

Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa racun di ramuan tersebut bisa menghambat pergerakan sperma. Namun, karena efek racunnya bisa mengakibatkan serangan jantung, pembatasan penggunaan ramuan tersebut diberlakukan, apalagi untuk penggunaan sebagai alat kontrasepsi.

Kini, Gunda Georg dan Gustavo Blanco beserta timnya dari American Chemical Society telah berhasil menciptakan tiruan ouabain yang hanya memproduksi protein untuk melumpuhkan aktivitas sperma tanpa mengakibatkan serangan jantung.

Baca Juga: Mengapa Alat Kontrasepsi Pria Tak Sebanyak Wanita?

Dalam uji coba terhadap tikus, ouabain sintetis ini ternyata berhasil melemahkan sperma tanpa ada efek keracunan. Namun, ouabain tiruan tersebut hanya melemahkan sperma yang sudah matang dan tidak mempengaruhi sperma muda.

"Efek kontrasepsi hanya ditemukan pada sel sperma dewasa. Itu berarti sel sperma yang diproduksi setelah menghentikan pengobatan dengan turunan ouabain seharusnya tidak terpengaruh," kata tim penelitian dikutip dari Eureka Alert, Kamis (18/1/2018).

Walaupun uji coba kali ini tergolong berhasil, makalah yang dipublikasikan di Journal of Medicinal Chemistry itu menerangkan bahwa masih butuh waktu lama untuk menjadikan ramuan Afrika Kuno itu menjadi alat kontraspesi, baik dalam bentuk pil ataupun gel, bagi pria.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X