Kompas.com - 14/01/2018, 12:05 WIB
|
EditorGloria Setyvani Putri


JAKARTA, KOMPAS.com – Gerakan anti vaksin masih merebak di Indonesia. Tak terkecuali pada kejadian luar biasa (KLB) difteri di penghujung 2017.

Beberapa alasan terkait penolakan vaksin muncul. Mulai dari efek samping vaksin yang membuat suhu badan naik, isu autisme, sampai kandungannya yang diduga berasal dari bahan haram.

Vaksin difteri yang ada di Indonesia diproduksi oleh PT Bio Farma (Persero). Distribusi vaksin perusahaan plat merah ini telah tersebar di berbagai belahan dunia.

Direktur Utama PT Bio Farma (Pesero), Juliman, berkata bahwa Bio Farma telah mengekspor vaksin difteri ke 136 negara. Dari jumlah itu, 50 di antaranya merupakan negara berpenduduk mayoritas Islam.

"Jadi, di luar negeri tidak bermasalah dengan vaksin kita. Tetangga kita juga belinya (vaksin difteri) dari Bio Farma," kata Juliman dalam diskusi di Gedung Serbaguna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Jumat (12/1/2018).

Baca juga: Wabah Difteri di Indonesia, Antara Vaksinasi dan Antibiotik

Kualitas Bio Farma sebagai produsen vaksin telah mendapatkan pengakuan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pencapaian ini tidaklah mudah. Sebab dari 200 perusahan vaksin di dunia, hanya 30 perusahaan vaksin yang diakui WHO.

Juliman berkata sebelumnya Bio Farma dapat memproduksi 15 juta vial vaksin dalam lima hari kerja.

Setelah pemerintah mengumumkan untuk memberikan imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Imunization), jam kerja ditambah menjadi tujuh hari dengan total produksi hingga 20 juta vial.

Dengan adanya KLB, Bio Farma menunda sementara ekspor vaksin difteri, baik kepada UNICEF dan beberapa negara lain. Prioritas utama untuk di dalam negeri terlebih dahulu.

UNICEF membeli vaksin untuk diberikan lagi kepada negara yang membutuhkan. Selain itu, lewat perdagangan bilateral, Bio Farma menjual langsung vaksin ke kementerian kesehatan negara lain dan sektor swasta.

"Kami harus minta maaf kepada UNICEF dan mitra di luar negeri untuk sementara menunda dulu suplai kepada mereka. Mereka bisa memahami," tutur Juliman.

Baca juga : Ini Kata Kemenkes tentang Dokter Bimanesh dan RS Medika Permata Hijau

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.