Kompas.com - 09/01/2018, 08:06 WIB
Pine Island Antartica NASA NASAPine Island Antartica NASA
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Kamera milik NASA merekam proses retaknya sebuah gunung es yang terpisah dari salah satu wilayah lapisan es besar di Antartika akhir tahun lalu.

Area Pine Island di Antartika merupakan salah satu lapisan es utama di Antartika.

Ia terdeteksi meleleh begitu cepat pada bulan September tahun lalu, dan pada 15 Desember 2017, kamera satelit Landsat 8 milik NASA merekam salah satu gunung es yang bernama B-44 terpisah dari Pine Islands.

Menggunakan berbagai cara, termasuk mengamati lengkungan cakrawala matahari dan panjang bayang-bayang; para peneliti menemukan bahwa gunung es tersebut berukuran 48 meter di atas permukaan air laut dan 243 meter di bawah permukaan air laut.

Baca Juga: 7 Robot Canggih Diterjunkan ke Dasar Laut Antartika, Ini Misinya

Dari pengamatan peneliti, B-44 terpecah menjadi lebih dari 20 lapisan es karena kantong air hangat yang dikenal sebagai polyna. Peneliti berpikir bahwa air laut yang lebih panas dari biasanya menyentuh dasar gletser dan menyebabkannya mencair dengan cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pada saat suhu laut lebih dingin, es meleleh dengan lambat, dan begitu juga dengan pergerakan gletser. Namun, saat lautan hangat, gletser bergerak sangat cepat," kata Eric Rignot, seorang ahli iklim dari University of California, Irvine, kepada The New York Times.

Menanggapi kejadian ini, Robert Larter, seorang ahli geofisika, berkata bahwa kondisi di Antartika khususnya Pine Islands sudah mengkhawatirkan.

Baca Juga: Antartika Berduka, Ribuan Anak Penguin Mati Kelaparan

"Apa yang kami saksikan di Pine Island sangat mengkhawatirkan. Kami sekarang sedang melihat bagaimana proses retaknya lapisan es hingga terbelah berubah," kata Larter yang telah terbang di atas gletser Pine Island, dikutip dari Newsweek pada hari Minggu (31/12/2017).

Dia melanjutkan, selama 68 tahun, kita melihat pola maju mundur yang meretakkan gunung dan meninggalkan bagian bawah gletser di tempat yang sama.

Bila dalam beberapa fenomena sebelumnya bagian bawah gletser kembali ke posisi yang hampir sama dan lapisan es kembali masuk ke laut, fenomena terbaru terbaru ternyata berbeda.

"Dengan terus menipisnya es, jelas bahwa cepat atau lambat akan ada perubahan pada pola ini - dan inilah yang kita saksikan sekarang," kata Larter.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.