Kompas.com - 08/01/2018, 19:34 WIB

KOMPAS.com - Sudah jamak diketahui tidur cukup mendatangkan banyak manfaat untuk tubuh. Sebaliknya, kurang tidur juga dikaitkan dengan banyak masalah kesehatan.

Paling baru, kurang tidur dikaitkan dengan depresi dan gangguan kecemasan. Hal ini diungkapkan oleh sebuah penelitian terbaru yang menyebut bahwa orang yang tidur kurang dari delapan jam yang disarankan cenderung memiliki pikiran negatif yang berulang.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa orang yang kurang tidur akan kurang mampu mengalighkan perhatian mereka terhadap rangsangan yang menyulitkan. Akibatnya, pikiran negatif muncul dan menyertai mereka sepanjang hari.

Hal tersebut lebih kuat daripada orang yang beristirahat dengan baik.

Baca juga: Ternyata, Belajar Bahasa Asing Bisa Dibantu Dengan Tidur

Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry tersebut menunjukkan bahwa kurang tidur benar-benar bisa membuat kita sedih. Penelitian ini juga merujuk pada istirahat sebagai pilihan pengobatan utama untuk kondisi keshatan mental tertentu, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Untuk penelitian ini, para peneliti melihat kebiasaan tidur dari 52 peserta yang memiliki pemikiran berulang moderat hingga tinggi. Selanjutnya, mereka dinilai menggunakan tes psikologi yang dikenal sebagai Kuesioner Berpikir Perspektif.

Para peserta diminta melihat gambar dan foto yang dirancang untuk memicu respon emosional negatif, seperti senjata dan pisau, serta gambar netral dan positif. Para peneliti kemudian mempelajari gerakan mata peserta, memberikan perhatian khusus pada seberapa cepat peserta mengalihkan pandangan saat ada gambar yang mengganggu.

Hasilnya, orang yang kurang tidur (tidur kurang dari 8 jam sehari) lebih lambat berpaling dari gambar yang mengganggu. Peneliti juga menyimpulkan bahwa masalah ini dapat semakin berat karena orang yang kurang tidur mungkin juga mengalami kesulitan dalam mengalihkan perhatian mereka dari pemikiran atau gagasan negatif.

Para peneliti berhipotesisbahwa pemikiran semacam itu bisa membuat orang-orang tersebut memiliki risiko lebih besar mendapat gangguan kecemasan atau depresi.

"Pemikiran negatif berulang ini relevan dengan beberapa gangguan yang berbeda seperti gelisah, depresi, dan lain-lain," uangkap Meredith Coles, co-author penelitian ini dikutip dari Newsweek, Sabtu (06/01/2018).

Halaman:
Baca tentang
Sumber Newsweek


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.