WHO Setujui Vaksin Baru untuk Tifus yang Efektif dan Murah

Kompas.com - 05/01/2018, 19:35 WIB
vaksin tifus disetujui WHO vaksin tifus disetujui WHO
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Rabu (3/1/2018), Badan Kesehatan Dunia ( WHO) mengumumkan telah menyetujui penggunaan vaksin tifoid untuk digunakan secara global.

Sebenarnya, persetujuan ini sudah diberikan sejak Desember 2017, tetapi baru diumumkan Rabu kemarin.

Menurut WHO, vaksin tifoid baru ini sangat efektif dan aman digunakan untuk bayi. Selain itu, harganya juga sangat terjangkau.

Demam tifoid atau tifus adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang hidup di limbah dan makanan terkontaminasi.

Setiap tahunnya, ada 20 juta orang dari seluruh dunia yang terserang penyakit ini, dan 160.000 di antaranya meninggal. Kelompok usia yang paling sering menderita penyakit ini adalah anak-anak.

Baca juga : Kisruh Vaksin DBD Dengvaxia, BPOM Beri Penjelasan 

Dulu, penyakit yang juga dikenal dengan istilah Typhoid Mary ini paling banyak terjadi di Amerika. Namun, kini paling banyak ditemukan di Afrika dan Asia.

Tak heran, saat perkotaan tumbuh menjadi daerah yang kumuh, cuaca menjadi lebih panas, dan bakteri mengembangkan resistensi (pertahanan) terhadap lebih antibiotik; kebutuhan akan vaksin yang efektif dan terjangkau pun ikut meningkat.

Seperti dilansir dari New York Times, Rabu (3/1/2018), vaksin baru yang telah disetujui ini bernama Typbar TCV dan dibuat oleh Bharat Biotech dari Hyderabad, India.

Dengan persetujuan ini, vaksin tersebut bisa diperjualbelikan, termasuk kepada badan PBB untuk diberikan pada negara-negara miskin.

Aliansi vaksin GAVI yang berkomitmen meningkatkan akses imunisasi pada negara miskin juga telah mengalokasikan 85 juta dolar AS untuk membeli Typbar TCV untuk diberikan kepada anak-anak mulai tahun depan.

Baca juga : Cegah Difteri, Perlukah Pakai Masker dan Imunisasi Bayi Baru Lahir? 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X