Kompas.com - 20/12/2017, 07:02 WIB
Sejumlah lumba-lumba muncul di permukaan di Perairan Wangiwangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (13/11/2017). Selain pesona keindahan alam bawah laut, Wakatobi juga menyimpan potensi lainnya yakni keberadaan lumba-lumba di wilayah perairan tersebut. ANTARA FOTO/JOJONSejumlah lumba-lumba muncul di permukaan di Perairan Wangiwangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (13/11/2017). Selain pesona keindahan alam bawah laut, Wakatobi juga menyimpan potensi lainnya yakni keberadaan lumba-lumba di wilayah perairan tersebut.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com - Melacak populasi binatang laut seperti lumba-lumba memang bukan hal yang mudah. Namun, bukan berarti hal ini tidak mungkin dilakukan.

Sebuah terobosan terbaru dari Scripps Institution of Oceanography di California memperkenalkan sebuah alat algoritma yang mampu menangkap lebih dari 52 juta suara lumba-lumba dan mengidentifikasi tujuh kelompok suara yang berbeda.

Dalam penelitian yang sudah diterbitkan di jurnal PLOS Computational Biology, tim peneliti menjelaskan bahwa mereka menggunakan alat ekolokasi atau biosonar.

Ini adalah sensor yang diletakkan di bawah air untuk menangkap suara lumba-lumba. Dari sini, peneliti dapat mengetahui jumlah, distribusi, dan perilaku mamalia.

Baca juga : Tidak Kalah dari Manusia, Lumba-lumba Juga Bisa Romantis

Seperti dilansir dari New York Times, Jumat (8/12/2017), para peneliti sekaligus penulis makalah berspekulasi bahwa jenis suara yang ditangkap itu sesuai dengan berbagai jenis lumba-lumba yang ada di dalam laut.

Ide ini datang dari Kait Frasier saat dia memulai program PhD-nya di laboratorium Akustik Paus, Scripps, untuk mempelajari bencana industri tumpahan minyak Horizon Deepwater (The Deepwater Horizon oil spill) yang terjadi di teluk Meksiko pada 20 April 2010.

Pada saat itulah, Dr Frasier kemudian memantau kondisi dan apa yang dilakukan lumba-lumba setelah ledakan industri dahsyat itu terjadi.

Dia dan koleganya meletakkan sensor akustik di sekitar teluk Meksiko. Sensor ini berfungsi untuk mengubah energi-energi akustik (gelombang suara) menjadi sinyal elektronik.

Kemudian Frasier mengumpulkan banyak data dari situ untuk mengidentifikasi pergerakan lumba-lumba.

Akan tetapi, menerapkan alat ekolokasi untuk memantau lumba-lumba tidak langsung dilakukan begitu saja.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.