Kompas.com - 16/12/2017, 20:06 WIB
Harapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGHarapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Hingga kini, badak sumatera menjadi salah satu spesies yang terancam keberadaannya di bumi. Pada tahun 2008, peneliti memperkirakan populasinya hanya tinggal di kisaran angka 220 hingga 275 ekor saja.

Status mereka dalam situs resmi International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun belum berubah, masih endangered atau terancam punah, dan tren populasi justru terus menurun.

Ironisnya, nasib badak berbulu ini ternyata tak jauh beda dengan kehidupannya di masa lalu.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology, Kamis (14/12/2017) memaparkan bahwa badak sudah berhadapan dengan fase kepunahan sejak 10.000 tahun yang lalu.

Baca juga : Kontroversial, Afrika Selatan Legalkan Penjualan Cula Badak 

"Spesies ini sudah berada dalam fase kepunahan untuk waktu yang sangat lama," kata Terri Roth, ahli badak dari Pusat Konservasi dan Penelitian Habitat Spesies Terancam Punah kebun binatang Cincinnati, Amerika Serikat.

Hasil penelitian tersebut berdasarkan dari analisis genetik DNA badak Sumatera bernama Ipuh yang tinggal di Kebun binatang Cincinnati selama 22 tahun.

Tim menggunakan teknik yang disebut pemodelan Pairwise Sequential Markovian Coalescent (PSMC), yang memungkinkan mereka untuk memperkirakan populasi spesies yang mencakup ribuan generasi hanya dengan pengurutan gen dari satu individu saja.

Dengan menggunakan sampel DNA Ipuh, tim membandingkan hasilnya dengan data fosil dan iklim untuk mengumpulkan gambaran bagaimana nasib badak Sumatera selama beberapa juta tahun terakhir.

Baca juga : Kama Sutra Satwa: Ribetnya Seks Badak Sumatera

Menurut data, spesies tersebut mencapai puncak populasi sekitar 950.000 tahun yang lalu, dan jumlahnya mencapai sekitar 57.800 spesies.

Namun, jumlah populasi mengalami naik turun selama Zaman Es, yang berlangsung dari sekitar 2,6 juta tahun lalu hingga sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.