Kompas.com - 16/05/2017, 21:51 WIB
Harapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGHarapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera.

KOMPAS.com - Seks badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) mungkin salah satu seks paling "ribet" sedunia satwa, termasuk jika dibandingkan manusia.

Manusia bisa merayu pasangan atau membuka aplikasi kencan untuk mendapatkan seks instan. Badak sumatera, baik yang jantan maupun betina, tidak.

Seperti beberapa hewan lain, badak sumatera memiliki masa birahi. Namun, ada sejumlah faktor yang membuat seks mamalia paling terancam punah di dunia itu lebih "ribet".

"Badak betina tidak mau didatangi kapan saja, hanya 4 hari dalam masa estrusnya," kata Widodo S Ramono dari Yayasan Badak Indonesia (YABI).

"Ada satu hari di mana ukuran folikel badak berukuran 22 milimeter. Kalau kurang dari itu, badak betina tidak suka didatangi pejantan," imbuh Widodo, Selasa (16/5/2017).

Dengan periode birahi dan "mood" betina yang singkat, kerepotan bertambah dengan perilaku badak sumatera jantan yang kerap agresif.

Dalam masa pendekatan, badak sumatera jantan kerap memaksa kehendak. Akibatnya bukan hanya penolakan tetapi juga cedera pada betina.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Reproduksi juga lebih repot karena jantan dan betina tak bisa bertemu setiap saat. Badak sumatera hidup "single and happy". Mereka menikmati berkelana sendiri.

Dalam kondisi alam yang bagus, pertemuan jantan dan betina bisa lebih mudah. Tapi dengan kondisi hutan di Sumatera yang sudah terfragmentasi, pertemuan sulit.

Pertemuan dan seks badak yang sulit adalah tantangan dalam konservasinya. Ilmuwan dan pegiat konservasi bekerja keras untuk menakhlukkan tantangan itu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.