Mengenal Bekantan, Primata Asli Borneo yang Sedang Melawan Kepunahan

Kompas.com - 06/12/2017, 19:09 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

JAKARTA, KOMPAS.com — Penurunan populasi bekantan (Nasalis larvatus) semakin mengkhawatirkan. Alih fungsi lahan, perburuan liar, dan kebakaran hutan merupakan beberapa penyebab primata endemik Borneo ini perlu segera mendapatkan konservasi.

Tak semua kalangan sadar bekantan masuk sebagai salah satu hewan yang dilindungi. Sebagian orang mungkin mengenalnya sebatas maskot tempat rekreasi di Jakarta.

Pada Maret 2016 lalu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah menetapkan bekantan sebagai bagian dari 25 hewan yang harus ditingkatkan populasinya.

Bahkan, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) menempatkan bekantan sebagai spesies langka.

Lalu, berdasarkan the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), bekantan masuk dalam appendix I atau spesies yang terancam punah.

Baca juga: Mengenal Rangkong Gading, Sang Petani Hutan Sejati

Hindia Belanda juga mengeluarkan Ordonansi Perlindungan Binatang Liar pada tahun 1931 untuk melindungi bekantan.

Penilaian populasi dan kelangsungan habitat (PHVA) pada 2004 memperkirakan jumlah bekantan sebanyak 25.000 individu. Kini, jumlahnya diperkirakan menurun drastis.

“Setelah kebakaran hutan 2014, ada sekitar 2.500 individu yang berada di dalam kawasan konservasi. Lalu, di luar kawasan konservasi masih tanda tanya besar karena belum dilakukan survei,” kata peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB), Hadi Sukadi Alikodra, dalam acara bedah buku Bekantan: Perjuangan Melawan Kepunahan di Kompleks Kemenristekdikti, Selasa (6/12/2017).

Hadi mengatakan, pakan bekantan adalah dedaunan pada pohon berkanopi tinggi. Pohon jenis ini juga digunakan untuk bersosialisasi dan tidur kala malam. Kerusakan pohon akibat kebakaran hutan membuat bekantan terpaksa menghabiskan waktunya di daratan yang meningkatakan risiko ancaman predator.

Baca juga : Benarkah Harimau Jawa Belum Punah?

“Kehilangan pohon juga bikin bekantan tidak bisa melompat. Jika jarak pohon 5 meter, lompatya tidak sampai dan akhirnya jatuh,” kata Hadi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.