Kompas.com - 06/12/2017, 19:09 WIB
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

Cerita perburuan bekantan dikisahkan  Abdurahman, warga Desa Pematang Gadung, Kecamatan Mata Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Rabu (29/11/2017) pekan lalu. Dia  berbincang dengan salah seorang pemburu di Pontianak.

Sekali beburu di akhir pekan, hasilnya secara rata-rata bisa berupa 10 bekantan, 5 makaka, 3 lutung, dan 1 babi. Selain itu, hewan lain yang tertangkap dianggap bonus.

Namun, jumlah itu sebelunya telah menurun sejak tahun 2015. Sebelumnya, 20 bekantan bisa didapatkan dalam sekali perburuan.

“Menurut dia, alasan yang paling besar adalah adanya pemburu lain yang ikut berpartisipasi. Jadi mereka berebut lahan. Kalau sepekan 10, setahun ada 520 bekantan yang dia tembak. Itu baru satu orang. Belum pemburu lain,” kata Abdurahman.

Baca juga : Panda Tak Lagi Terancam Punah, Bagaimana China Melakukannya? 

Peneliti WWF, Chairul Seleh, bercerita bahwa pihaknya pernah menangani landskap di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat seluas 19.000 ha.

Di sana terdapat 50 titik perjumpaan bakantan. Namun, terjadi penurunan populasi sebesar 50 persen dalam 10 tahun terakhir akibat perburuan.

“Kami dengar ada yang melakukan perburuan bekantan di Kubu Raya. Ada juga temuan dari landskap Kubu Raya, ternyata daging bekantan itu jadi umpan yang efektif untuk berburu labi-labi,” kata Chairul.

Menanggapi fenomena itu, Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno, mengatakan akan segera meninjau ke lapangan dan melakukan sosialisasi status perlindungan bekantan.

Untuk itu, dia akan bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan pihak kepolisian.

“Bahaya sekali karena jumlahnya besar. Bekantan seperti ditinggalkan. Kita harus gerak cepat,” kata Wiranto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.