Ada Bakteri di Luar Angkasa, Mungkinkah dari Alien? - Kompas.com

Ada Bakteri di Luar Angkasa, Mungkinkah dari Alien?

Kompas.com - 30/11/2017, 19:31 WIB
Astronot Rick Mastracchio berpose dengan bakteri yang ditumbuhkan menggunakan antibiotik di ISSNASA Astronot Rick Mastracchio berpose dengan bakteri yang ditumbuhkan menggunakan antibiotik di ISS

KOMPAS.com - Apa jadinya jika bumi terpapar bakteri di luar angkasa? Baru-baru ini, bakteri hidup ditemukan di luar angkasa, tepatnya di luar stasiun ISS. Seorang kosmonot Rusia menyampaikan hal ini kepada kantor berita TASS minggu ini.

Anton Shkaplerov, yang akan memimpin kru ISS Rusia pada bulan Desember ini, berkata bahwa pihak mereka telah mengambil sampel bakteri saat beraktivitas di luar wahana ruang angkasa.

Sampel ini berasal dari bagian ISS yang kotor karena limbah bahan bakar dan dari celah-celah yang gelap. Dari hasil tes, jenis-jenis bakteri ini ternyata tidak terdaftar dalam modul ketika ISS diluncurkan pertama kali ke orbit Bumi.

Dikutip dari National Geographic, Selasa (28/11/2017), klaim Shkaplerov untuk saat ini dinilai masih meragukan.

Baca Juga: NASA Kirim Makanan Lezat dan Bakteri ke Luar Angkasa, Untuk Apa?

Dia tidak menyebutkan bila penelitian tersebut telah diperiksa oleh jurnal yang melalui penilaian rekan, yang berarti tidak jelas kapan dan bagaimana percobaan penuh dilakukan.

Selain itu, masih belum jelas bagaimana tim menghindari kontaminasi dari bakteri yang jauh lebih biasa di kosmonot atau di laboratorium bumi.

Daripada mikroba yang turun dari luar angkasa atau alien, jauh lebih masuk akal bila bagian luar stasiun luar angkasa ISS terkontaminasi oleh organisme bumi.

Pasalnya, kontaminasi bakteri bumi di luar angkasa bukan hal baru. Beberapa organisme yang dikirim ke luar angkasa, seperti tardigrada dan E coli, terbukti mampu hidup di luar angkasa.

Lalu, pada misi ISS sebelumnya, bakteri yang tidak sengaja "menumpang" pada tablet PC dan benda lainnya mampu untuk bertahan hidup, dan bahkan menyusup ke luar wahana ruang angkasa. Bakteri-bakteri ini mampu tinggal di sana selama tiga tahun, meskipun suhu berfluktuasi antara -150 hingga 150 derajat celcius.

Baca Juga: Teori Baru, Kehidupan Planet Berasal dari Debu Luar Angkasa

Pencegahan

Penemuan-penemuan semacam ini menjadi kekhawatiran baru bagi ilmuwan yang mencoba membatasi penyebaran kuman bumi ke planet lain.

Pada 1967, majelis umum PBB mengadopsi Outer Space Treaty, yang mengharuskan misi dari bumi untuk menghindari kontaminasi benda angkasa berbahaya.

NASA, khususnya, telah menetapkan batasan ketat pada kontaminasi antar-planet. Contohnya pada astronot Apollo, mereka dikarantina saat kembali ke bumi untuk mencegah kuman di luar bumi masuk.

Selain itu, semua alat dari bumi disterilkan sebelum mengudara ke angkasa, baik dengan panas yang ekstrem maupun dibasuh alkohol.

Hal-hal ini menjadi sangat penting untuk misi ke Mars. "Jika Anda ingin menemukan kehidupan di Mars, Anda harus menyingkirkan tanda-tanda kehidupan di bumi sehingga Anda bisa melihatnya," kata Catherine Conley, ilmuwan NASA pada September 2016.

Baca Juga: Negara Luar Angkasa Asgardia Resmi Meninggalkan Bumi

Meski begitu, sterilitas total mustahil untuk dicapai. Itulah sebabnya ada pedoman batasan mengenai jumlah kontaminasi mikroba pada sistem penerbangan, yaitu hingga 500.000 spora bakteri. Batasan itu setara dengan sepersepuluh jumlah spora dalam satu sendok teh air laut.

Secara khusus, rover Mars terbatas pada 300.000 spora saja di permukaannya. Harapannya adalah, kalaupun beberapa bakteri di bumi menaiki robot, mereka akan mati di lingkungan Mars yang keras.

"Namun, semua itu mungkin akan berhenti jika kita berhasil mengirim manusia untuk menjelajahi Mars," tulis Emily Lakdawalla dari The Planetary Society.

"Begitu kita menempatkan manusia di permukaan Mars, hidup atau mati, akan jauh lebih sulit untuk mengidentifikasi kehidupan asli di Mars," tutupnya.


EditorGloria Setyvani Putri
Komentar
Close Ads X