Angka Bunuh Diri Meningkat, Peneliti Kembangkan Alat Prediksi

Kompas.com - 14/11/2017, 12:05 WIB
Ilustrasi depresi ShutterstockIlustrasi depresi
|
EditorResa Eka Ayu Sartika

KOMPAS.com- Angka kematian akibat bunuh diri di kalangan orang muda semakin meresahkan. Berdasar data dari National Institute of Mental Health (NIMH) jumlah kasus bunuh diri saat cenderung meningkat. 

Di Amerika, kasus bunuh diri sudah merupakan krisis kesahatan masyarakat. Dalam beberapa kasus, pelaku tidak mengakui ingin bunuh diri saat komunikasi terakhir dengan terapisnya.

Hal ini mendorong peneliti untuk mencari tanda-tanda yang jelas untuk mengetahui apakah pasien memiliki intensi untuk mengakhiri hidupnya berdasar sejumlah hal. Mulai dari masa lalunya, sejarah keluarga, insomnia, agitasi, rasa keamanan dan kenyamanan, serta sejarah kehidupan sosial.

Dikutip dari Psychology Today, Selasa (31/10/2017), pemikiran bunuh diri tidak selalu berkaitan dengan penyakit kejiwaan. Namun, pikiran dan perilaku bunuh diri dapat terjadi pada banyak kondisi kejiwaan seperti depresi berat, trauma, pengunaan narkotika, gangguan kecemasan, gangguan psikotik, dan gangguan kepribadian.

Baca juga: Benarkah Bunuh Diri Bisa Menular? Psikolog Ini Menjawabnya

Lalu, bagaimana cara mengatasi pemikiran yang merusak tersebut? Salah satunya dengan pendekatan psikologis untuk memahami dan mencari alasan mengapa ada keinginan bunuh diri dan apa artinya.

Kemudian, sebagai lanjutannya, juga bisa dilakukan pendekatan dengan penanganan terapi bagi pasien untuk mengurangi frekuesni dan intensitas keinginan bunuh diri. Sayangnya, kedua hal tersebut bukanlah pekerjaan mudah bagi psikiter atau ahli kejiwaan.

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan segera alat untuk memprediksi risiko bunuh diri. Kemajuan teknologi penelitian saraf saat ini, sangat memungkinkan untuk menganalisis aktivitas otak dan menentukan apakah pasien memeliki kecenderungan menyakiti diri sendiri atau tidak.

Harapannya adalah alat tersebut bisa membantu para psikiater atau ahli kejiwaan membuat diagnosa untuk pengobatan klinis menjadi lebih baik.

Penelitian yang dikepalai oleh Marcel Adam Just terkait bunuh diri ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature, Senin (30/10/2017). Dalam temuannya, Just dan koleganya mencoba untuk mengetahui pemikiran bunuh diri dengan melakukan eksperimen terhadap 79 orang dewasa yang sedang ingin bunuh diri dan memiliki trauma keluarga.

Para peneliti menggunakan beberapa instrumen terkait bunuh diri serta menilai depresi, kecemasan, trauma masa kecil, dan kondisi kejiwaan lainnya dengan menggunakan evaluasi dokter dan skala penilaian yang divalidasi. Selain itu, peneliti juga menggunakan Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) untuk menganalisa aktivitas otak mereka terkait bunuh diri.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Fenomena
Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Fenomena
Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Oh Begitu
3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

Fenomena
Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Oh Begitu
Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Oh Begitu
Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Kita
Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Fenomena
Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Oh Begitu
Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X