Miris, 60.000 Petani di India Bunuh Diri karena Perubahan Iklim - Kompas.com

Miris, 60.000 Petani di India Bunuh Diri karena Perubahan Iklim

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 08/08/2017, 21:52 WIB
Seorang penggembala berjalan di atas sungai kering di distri Yadadri Bhuvanagiri, 55 kilometer dari Hyderabad pada tanggal 30 Mei 2017, di selatan provinsi Telangana, India.NOAH SEELAM / AFP Seorang penggembala berjalan di atas sungai kering di distri Yadadri Bhuvanagiri, 55 kilometer dari Hyderabad pada tanggal 30 Mei 2017, di selatan provinsi Telangana, India.

KOMPAS.com – Tampaknya kita tidak perlu menunggu hingga 2100 untuk melihat bagaimana perubahan iklim membunuh manusia. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh University of California, Berkeley, sekitar 60.000 petani di India telah bunuh diri akibat perubahan iklim.

Dalam studi yang dipublikasikan minggu lalu dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tersebut, Tamma Carleton dari UC Berkeley membandingkan data selama lima dekade terakhir mengenai perubahan iklim dan kasus bunuh diri di India.

Dia menemukan adanya hubungan kuat antara variasi temperatur di negara tersebut dengan angka bunuh diri selama musim pertumbuhan.

(Baca juga: Tahun 2100, Suhu di Negara-negara Ini Akan Membunuh Manusia)

Bahkan, kenaikan 1 derajat celcius saja pada hari-hari pertumbuhan tanaman berkolerasi dengan peningkatan kasus bunuh diri sebanyak 67, dan kenaikan 5 derajat celcius diasosiasikan dengan tambahan 335 kematian akibat bunuh diri.

Sebaliknya, Carleton juga menemukan bahwa peningkatan curah hujan sebanyak satu sentimeter per tahun mengurangi angka bunuh diri sebanyak tujuh persen.

Secara total, Carleton memperkirakan bahwa sebanyak 59.300 kasus bunuh diri di bidang pertanian selama 30 tahun terakhir di India bisa dihubungkan dengan pemanasan global.

Wabah bunuh diri

Kasus bunuh diri memang mewabah di India. Dilaporkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), India memiliki angka bunuh diri tertinggi di dunia. Pada tahun 2015 saja, sebanyak 133.623 orang di India memilih untuk mengakhiri hidupnya, dan hampir sepersepuluh dari mereka atau sekitar 12.000 orang adalah petani dan pekerja pertanian.

Beberapa alasan menjadi pemicu, termasuk kebangkrutan, hutang, dan masalah-masalah pertanian lainnya.

Di dalam makalahnya, Carleton menulis bahwa peningkatan temperatur selama musim pertumbuhan mengurangi panen dan menambahkan tekanan ekonomi bagi para petani-petani India.

“Kekurangan ini juga masuk ke perekonomian, dan membuat populasi yang bertani dan tidak bertani tertekan karena naiknya harga pangan dan turunnya kebutuhan akan pekerja pertanian,” tulis Carleton.

(Baca juga: Tahun 2100, Suhu Harian Indonesia Bisa Capai 40 Derajat Celsius)

Hal ini terbukti dalam protes yang dilakukan oleh para petani dari Tamil Nadu. Mereka membawa tulang-tulang dan tengkorak petani yang bunuh diri dan menumpuknya di Jantar Mantar, Delhi, tidak jauh dari gedung parlemen India. Menurut mereka, kekeringan terhebat dalam 140 tahun terakhir telah membunuh ratusan petani Tamil Nadu.

Lalu, dalam penampilan terbarunya di radio, Perdana Menteri Narendra Modi pun mengakui bahwa perubahan iklim telah menimbulkan dampak yang luar biasa bagi India. Dia berkata bahwa perubahan iklim telah menyebabkan banjir besar di berbagai daerah di India, seperti Assam, Gujarat, Rajashtan, dan Bengal.

“Hidup pun menjadi terbalik akibat banjir. Tanaman, ternak, infrastruktur, jalan, listrik, dan komunikasi – semuanya terganggu, khususnya petani-petani kita yang harus menghadapi banyak kerugian akibat kerusakan terhadap tanaman dan sawah mereka,” kata Modi.

Dalam usaha untuk menanganinya, pemerintah India pun harus mengucurkan dana asuransi perlindungan tanaman senilai Rp 17,3 triliun.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM