Kisah Buaya Berkalung Ban dan Kenyataan Menyedihkan Lingkungan Kita

Kompas.com - 01/11/2017, 18:38 WIB
Seekor buaya liar yang terjerat sampah ban bekas sepeda motor kembali muncul di permukaan sungai di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (30/10/2017). Satwa dilindungi dengan panjang sekitar empat meter itu sudah terjerat ban selama lebih dari satu tahun sejak pertama kali terlihat pada 20 September 2016 dan hingga kini belum bisa diselamatkan dari jeratan ban tersebut. ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAHSeekor buaya liar yang terjerat sampah ban bekas sepeda motor kembali muncul di permukaan sungai di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (30/10/2017). Satwa dilindungi dengan panjang sekitar empat meter itu sudah terjerat ban selama lebih dari satu tahun sejak pertama kali terlihat pada 20 September 2016 dan hingga kini belum bisa diselamatkan dari jeratan ban tersebut.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com – Pencemaran sampah bukan cerita baru di Indonesia. Petugas kebersihan di KM Bukit Raya milik PT Pelni tak canggung untuk membuang sampah di tengah perjalanan dari Tanjong Priok, Jakarta Utara, menuju ke Natuna di Kepulauan Riau.

Videonya beredar luas di media sosial dan mendapat tanggapan negatif dari warganet.

Bulan lalu, publik kembali dibuat geleng-geleng setelah melihat hasil jepretan foto Justin Hofman. Foto di lepas pantai Sumbawa, Nusa Tenggara Barat itu mengabadikan seekor kuda laut yang tengah berpegangan pada korek kuping.

Tahun lalu, seekor buaya di Sungai Palu tertangkap berkalung ban.

Sejumlah kasus menunjukkan betapa besar ancaman manusia pada makhluk lainnya. Orang Indonesia tercatat sebagai orang kedua terbesar yang menyumbangkan sampah ke lautan, kebanyakan berupa plastik.

Herpetolog Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI) mengatakan, pada reptil, lambungnya memiliki tingkat keasaman yang tinggi untuk melindungi dari bakteri.

Namun, fungsi tersebut tak bekerja bila makanan alaminya tergantikan oleh sampah plastik.

Baca Juga: Foto Kuda Laut Raih Korek Kuping Buktikan Betapa Kotor Laut Indonesia

Menurut Amir, sampah plastik berpegaruh terhadap habitat reptil. Pada buaya misalnya, plastik akan mempengaruhi kualitas kejernihan air dan menutupi masuknya sinar matahari.

“Butuh ruang yang luas di air saat angkat tubuhnya untuk ambil nafas. Kalau tertutupi sampah semua gak ada ruang untuk naik,” kata Amir saat dihubungi, Selasa (31/10/2017).

Berkurangnya intensitas cahaya matahari di dalam air akan mengurangi suhu. Sebagai hewan berdarah dingin, suhu sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan metabolisme reptil. Selain itu, suhu juga berpengaruh terhadap proses penetasan telur.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X