Kompas.com - 19/10/2017, 19:27 WIB
Pola makan dan gaya hidup berubah menjadi penyebab 50 juta anak-anak di China alami obesitas pada 2030. REX/TelegraphPola makan dan gaya hidup berubah menjadi penyebab 50 juta anak-anak di China alami obesitas pada 2030.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Baca: Obesitas? Lakukan Ini untuk Cegah Penyakit Ginjal

Selain itu, protein yang direkayasa juga dapat melawan obesitas. Tidak hanya menurunkan berat badan, tetapi juga mengontrol insulin aliran darah (pengendala kadar gula darah) dan mengontrol kadar kolesterol.

Seperti penelitian puasa berkala, penelitian ini juga dilakukan pada tikus dan primata. Hasil penelitian ini digunakan sebagai alternatif yang sangat dibutuhkan untuk operasi lambung atas untuk obesitas pada manusia.

Hasilnya sudah terbukti tiga kali lipat lebih mumpuni sejak 1975.

Berdasarkan pengamatan Yumei Xiong dan rekannya, tikus, primata, dan manusia obesitas mempunyai konsentrasi serum protein yang disebut GDF15. Risetnya dipublikasikan di jurnal Science Translational Medicine yang terbit 2017.

Mereka mengembangkan terapi yang berasal dari molekul.

Dalam percobaan yang dilakukan pada tikus, hewan yang dipaksa diet memiliki obesitas genetik, pemberian gen GDF15 mengurangi bobot tubuh, asupan makanan, dan kadar insulin pada hewan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, karena GDF15 memiliki waktu plasma yang pendek dan sulit diproduksi dalam jumlah banyak, para ilmuwan akhirnya menghasilkan dua protein fusi yang berbeda. Kali ini lebih stabil dalam sirkulasi dan menyebabkan hasil yang lebih tinggi.

Kedua protein tersebut secara efektif dapat menurunkan bobot tubuh untuk tikus obesitas dan primata cynomolgus.

Menariknya, Xiong dan rekannya selanjutnya menunjukkan bahwa GDF15 dapat mengubah preferensi makanan pada hewan percobaan, membantu hewan memiliki kalori lebih rendah saat memilih makanan standar dan susu diet kental.

Mereka menentukan bahwa GDF15 mengaktifkan populasi sel saraf yang disebut neuron AP. Ini merupakan bagian dari sumbu otak. Namun, masih diperlukan studi keberlanjutan untuk mengidentifikasi reseptor seluler protein yang diperlukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.