Kompas.com - 17/10/2017, 12:02 WIB
Satu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di Singapura pada awal 1862 Wallace Memorial FundSatu-satunya kenangan. Foto Ali mengenakan baju Eropa dipotret di Singapura pada awal 1862
EditorYunanto Wiji Utomo

Oleh John van Wyhe*

KOMPAS.com - Hasil ekspedisi ilmiah naturalis Inggris Alfred Russel Wallace di kawasan Asia Tenggara pada abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari bantuan penduduk lokal.

Salah satu seorang asisten kepercayaan Wallace adalah Ali, laki-laki Melayu berusia sekitar 15 tahun dari Sarawak Borneo, kini masuk wilayah Malaysia.

Wallace menggambarkan Ali sebagai remaja Melayu yang penuh perhatian, bersih, dan dapat memasak sangat lezat.

Berkelana di hutan-hutan, sungai, dan pegunungan, berjalan kaki dan naik perahu, Wallace dibantu oleh lebih dari 100 asisten: pemandu, koki, kru perahu, pemanggul barang, penembak dan tukang menguliti burung, pemotong kayu, dan peran lainnya.

Tentu saja nama Wallace dengan karyanya The Malay Archipelago jauh lebih populer dibanding para pembantunya, yang sebenarnya juga punya peran signifikan.

Ekspedisi Wallace selama delapan tahun di kepulauan Melayu adalah salah satu cerita klasik dari sejarah sains.

Dalam kurun waktu 1854-1862, Wallace dan tim asistennya mendapatkan 125.660 spesimen sejarah alam yang terdiri dari serangga, burung, reptil, mamalia, dan kerang.

Koleksi ini diambil dari Singapura, Sarawak di Borneo, Bali, Lombok, Makassar di Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Jawa, dan Sumatra.

Temuan itu yang mengukuhkan Wallace sebagai ilmuwan dunia yang menciptakan teori seleksi alam dan garis imajiner, Garis Wallace.

Ini garis yang memetakan jenis fauna berdasarkan ciri-cirinya di kepulauan nusantara: di bagian barat sebagian besar fauna berasal dari Asia, sedangkan di bagian timur berasal dari campuran Asia dan Australia.

Sebagai sebuah kerja ekspedisi besar, bukti-bukti menunjukkan dengan baik bahwa lebih dari 100 laki-laki bekerja untuk Wallace sepanjang pengembaraannya di kawasan tropis di era itu. Dan lebih dari 30 laki-laki dibayar sebagai asisten kolektor.

Ali, yang belakangan mungkin populer dengan sebutan Ali Wallace, awalnya direkrut sebagai juru masak, lalu juru perahu, dan dalam perjalanan berbulan-bulan kemudian naik kelas menjadi kepala asisten Wallace.

Wallace menyebut Ali sebagai asisten cerdas, menyenangkan, dapat dipercaya, dan laki-laki muda yang kompeten. Belakangan kisahnya dibuat film berjudul Searching for Ali Wallace.

Dia menemani Wallace melewati hampir semua perjalanan, terkadang sendirian, tapi lebih sering dengan beberapa asisten yang lain.

Baca Juga: Faktanya, Semua Orang Indonesia "Imigran", Tidak Ada yang Pribumi

Menurut Wallace dalam otobiografinya, Ali kemudian sangat berguna dalam mengajari tugas-tugas asisten yang lain. Dia segera mengetahui dengan baik keinginan dan kebiasaan Wallace.

Wallace biasanya berkonsentrasi mengumpulkan serangga, Ali mengumpulkan burung. Dia telah membuat penemuan baru signifikan bagi Wallace.

Hasil Wallace selama ekspedisi dan karya tulis ilmiahnya yang dihasilkannya mungkin akan sangat miskin bila tanpa bantuan Ali.

Dalam otobiografinya beberapa tahun kemudian, Wallace mendeskripsikan tentang Ali:

“Ketika saya tiba di Sarawak pada 1855, saya mengajak seorang remaja Melayu bernama Ali sebagai pelayan pribadi. Dia juga membantuku mempelajari bahasa Melayu dengan berkomunikasi terus menerus. Dia segera belajar menembak burung, menguliti burung dengan baik, dan kemudian menyiapkan kulit-kulit itu sangat rapi. Tentu saja dia pengayuh perahu yang baik, seperti halnya kebanyakan orang Melayu, dan dalam semua kesulitan atau bahaya dalam perjalanan kami, dia sama sekali tidak mengganggu dan siap untuk melakukan apa pun saat dibutuhkan tenaganya.”

Bandingkan dengan kesan Wallace terhadap asisten berusia belasan tahun yang dibawanya dari London, Charles Martin Allen. Wallace meninggalkan Inggris untuk pergi Kepulauan Melayu pada Maret 1854 dan keduanya sampai di Singapura pada 18 April 1854.

Pada tahap awal, Allen membantu Wallace mengumpulkan burung dan seranggga di Singapura, Pulau Ubin, dan kemudian di Malaka dan Sarawak.

Wallace dan Allen kembali dengan rute terpisah menuju Kuching, ibu kota Sarawak, pada awal Desember 1855. Seperti dijelaskan dalam surat Wallace, dia gusar atau jengkel terhadap kecerobohan, ketidakrapian, dan gagal berkembangnya Allen.

Bayang-bayang gelap

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Kita
Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Kita
Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Oh Begitu
Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.