Kompas.com - 03/08/2017, 17:07 WIB
Ilustrasi uang. shutterstockIlustrasi uang.
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -- Kebahagiaan memang tidak bisa dibeli dengan uang, kecuali bila Anda menggunakannya untuk membeli waktu.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, orang-orang yang membeli waktu dengan membayar orang lain untuk mengerjakan tugas yang tidak disukai, menjalani hidup yang lebih bahagia.

Sebagai contoh, bila Anda tidak suka mencuci piring, membayar orang lain untuk melakukannya dan menghabiskan waktu tersebut untuk mengerjakan hal lain yang lebih disukai akan membuat Anda jadi lebih bahagia.

(Baca juga: Inilah Penjelasan Ilmiah di Balik Tawa Anda)

Tim peneliti gabungan yang berasal dari Harvard University, University of British Columbia, dan dua institusi di Netherlands ini juga menemukan bahwa hal tersebut tidak hanya berlaku bagi orang-orang kaya saja.

Setelah mensurvei 6.000 responden di empat negara berbeda dengan pendapatan, jam kerja, jumlah tanggungan, dan karier yang beragam; mereka mendapati bahwa pembelian yang menghemat waktu berkolerasi dengan berkurangnya stres dan perasaan yang lebih positif.

Untuk semakin memantapkan penemuan mereka, para peneliti kemudian melakukan sebuah eksperimen dengan 60 orang dewasa di Vancouver, Kanada.

Selama dua akhir minggu berturut-turut, para peneliti memberi partisipan 40 dollar Kanada atau sekitar Rp 420.000 untuk membeli barang pada satu minggu dan membeli layanan yang menghemat waktu, seperti memperkerjakan pengasuh anak atau pembersih rumah, pada minggu lainnya.

Secara umum, partisipan melaporkan efek positif yang lebih tinggi setelah membeli layanan yang menghemat waktu dibandingkan dengan membeli barang.

Sayangnya, mayoritas orang tidak mau menukarkan uangnya dengan waktu. Pada survei terpisah dengan 98 orang dewasa di Vancouver, para peneliti menemukan bahwa hanya dua persen orang yang mau membeli lebih banyak waktu. Lalu, dalam survei di Belanda, hanya setengah dari milyuner yang secara rutin, membayar orang lain untuk mengerjakan tugas yang tidak mereka sukai.

Penemuan ini pun membuat Sanford DeVoe, seorang dosen psikologi di University of California yang tidak terlibat dalam studi tersebut, heran. Dia berkata bahwa walaupun mayoritas orang merasa kekurangan waktu sehingga mengalami stres, depresi dan kurang tidur; hanya sedikit yang mau mengeluarkan uangnya untuk mendapat lebih banyak waktu.

Ashley Whillans, psikolog sosial dari Harvard University yang memimpin studi tersebut, menduga bahwa bahwa hal ini disebabkan oleh nilai waktu yang abstrak.

“Kita selalu berpikir kita bahwa akan punya lebih banyak waktu pada keesokan harinya. Akibatnya, kita tidak mau menukarkan uang yang konkrit dan bisa diukur untuk waktu, yang lebih tidak jelas” ujarnya kepada Washington Post 24 Juli 2017.

DeVoe pun menyetujui pendapat Whilians. Dia mengatakan, ketika Anda membayar seseorang untuk membersihkan rumah atau memotong rumput di halaman, Anda tahu dengan pasti uang yang akan berkurang dari dompet. Namun, Anda tidak tahu seberapa besar kebahagiaan yang akan didapat dari membayar orang lain untuk melakukannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Cara Mencegah Hipertensi Sejak Dini Menurut Dokter

Kita
Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Anak Asma Berhak Mendapatkan Pengobatan yang Adekuat

Oh Begitu
6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

6 Penyebab Beruntusan Susah Hilang

Kita
Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Cara Mencegah Terjadinya Komplikasi pada Pasien Hipertensi

Oh Begitu
Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Jumlah Spesies Burung Terancam Punah di Indonesia Terbanyak di Dunia

Fenomena
Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Wisatawan Tewas Tersambar Petir di Bogor, Bagaimana Manusia Bisa Tersambar Petir?

Oh Begitu
Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Bagaimana Hipertensi Dapat Menyebabkan Kerusakan Organ?

Oh Begitu
Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Jokowi Bolehkan Lepas Masker di Luar Ruangan, Epidemiolog: Sebaiknya Jangan Terburu-buru

Kita
[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

[POPULER SAINS] Pantau Suhu Maksimum Cuaca Panas di Indonesia | Letusan Gunung Tonga Ledakan Terbesar | Makan Nanas Bikin Mulut Gatal

Oh Begitu
Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Jangan Remehkan Hipertensi, 4 Organ Tubuh Ini Bisa Rusak akibat Komplikasi

Oh Begitu
Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Hari Hipertensi Sedunia 2022, Kenali Faktor Risiko Hipertensi yang Bisa Dialami Usia Muda

Kita
Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Medina Zein Disebut Alami Bipolar Tahap Akhir, Ini Kata Psikiater

Kita
Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Asteroid 2013 UX Lewat Dekat Bumi Hari Ini, Akankah Menabrak Bumi?

Fenomena
NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

NASA Bagikan Suara dari Lubang Hitam Supermasif di Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Kenapa Matahari Tenggelam? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.