Hidup Sejak Dinosaurus Meraja, Ini Salah Satu Tanaman Tertua di Dunia

Kompas.com - 03/08/2017, 16:35 WIB
Lychnothamnus barbatus Paul Skawinski/University of WisconsinLychnothamnus barbatus
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com – Mata para peneliti dibuat terbelalak dengan kehadiran tanaman hijau besar yang menyerupai alga charales di Amerika Serikat.

Betapa tidak, tanaman tersebut telah hidup saat dinasaurus masih menjadi predator yang ditakuti pada 66 juta tahun yang lalu.

Lychnothamnus barbatus, tanaman itu, sempat dianggap punah dan menjadi tanaman prasejarah yang dikenang.

Namun, alga tersebut ternyata ditemukan kembali di 16 danau seberang wilayah Wisconsin dan Minnesota sekitar tahun 2012 dan 2016.

Begitu melihatnya, para ilmu langsung berinisiatif mengumpulkan dan mengambil DNA untuk mengonfimasi penemuan bersejarah tersebut.

“Kelangsungan hidup (L. barbatus) bukan hanya mengejutkan, tapi itu mengubah pandangan kita tentang flora alga Amerika Utara yang mengilhami kita untuk terus mencari temuan baru,” kata ahli botani Richard McCourt dari Drexel University, Pennsylvania, yang juga salah satu peneliti.

Sebelumnya, L. barbatus ditemukan pada gumpalan terisolasi di Eropa dan Australia. Di luar itu, penemuan lainnya berupa fosil di Argentina.

Di sana, tanaman itu ditemukan sebagai fosil dari zaman Kretaseus, era yang sama dengan penemuan fosil Tyrannosaurus rex.

Dilansir dari Science Alert, para peneliti berpikir L. barbatus adalah "penduduk" baru di Amerika Utara dan Midwest.

Kedatanganya dibantu oleh sistem yang digunakan untuk menyeimbangkan kepal. Saat terjadi bongkar muat, air laut dipompa ke dalam lambung kapal untuk menyeimbangkan kapal. Saat mengangkut muatan, air di lambung kapal dibuang ke laut.

Kemungkinan, L. barbatus terbuang di jalur laut atau danau di Amerika Serikat. Sayangnya, saat itu para peneliti belum melihat lebih jauh ke dalam danau untuk menegaskan hipotesis mereka itu.

Penemuan L. barbatus telah dipublikasikan pada American Journal of Botany. Bagi para peneliti, penemuan L. barbatus menjadi pintu masuk untuk melihat kemungkinan tanaman prasejarah lain yang masih bertahan hidup.

"Kami mengawasi, tapi umumnya pada jenis habitat yang kami kumpulkan untuk spesies stonewort (charales) lain yang diketahui berada di Amerika," kata McCourt. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X