Kali Pertama, "Kilauan" Air Dideteksi pada Jupiter Panas

Kompas.com - 03/08/2017, 20:10 WIB
WASP–121b mengitari bintang induknya Engine House VFX/At-Bristol Science Centre/University of ExeterWASP–121b mengitari bintang induknya
|
EditorShierine Wangsa Wibawa

KOMPAS.com -– Untuk kali pertama, para ilmuwan menemukan molekul air yang “berkilau” di sekitar planet yang berada di luar tata surya kita. Adanya molekul tersebut juga membuat para peneliti menduga bahwa planet bernama WASP-121b ini memiliki stratosfer.

Dilaporkan dalam jurnal Nature, molekul air pada planet ini tertangkap teleskop antariksa Hubbel milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Analisis spektroskopi juga menunjukkan bahwa molekul air mengeluarkan radiasi inframerah akibat kehilangan energi seiring kenaikan panas di stratosfer sebanyak 560 derajat celcius menjadi 2500 derajat celcius.

Dilansir dari Science Alert 3 Agustus 2017, para ilmuwan menduga kilauan tersebut berasal dari zat kimia vanadium oksida dan oksida titanium. Namun, belum ada kepastian mengenai hal itu.

(Baca juga: "Neptunus Kedua" Ditemukan, Uniknya Suhunya Hangat)

"Ketika datang ke eksoplanet yang jauh, yang tidak dapat kita lihat dalam detail yang sama seperti planet lain di tata surya kita sendiri, kita harus bergantung pada teknik proxy untuk mengungkapkan struktur mereka," kata astronom Drake Deming dari University of Maryland.

"Stratosfer WASP-121b yang sangat panas membuat uap air bersinar sehingga menjadi dasar analisis kami," tambahnya.

WASP-121b berada sekitar 900 tahun cahaya dari bumi. Ia termasuk exoplanet atau planet yang berada di luar tata surya. Dengan massa planet 1,2 kali dan radius 1,9 kali dibanding planet Jupiter, WASP-121b termasuk kelompok Jupiter panas.

Akan tetapi, WASP-121b juga memiliki beberapa perbedaan dari Jupiter. Salah satunya adalah udaranya yang sangat panas sehingga tidak mungkin menopang kehidupan.

Perbedaan lainnya, Jupiter mengorbit matahari setiap 12 tahun sekali, sedangkan WASP-121b hanya butuh 1,3 hari untuk mengitari bintang induknya. Dengan jarak sedekat itu, manusia tidak akan bisa hidup di WASP-121b. Sebab, gravitasi bintang induknya bisa merobek planet.

Meski demikian, memecahkan misteri WASP-121b bisa menjadi pelajaran penting dalam usaha kita mencari bumi berikutnya.

"[Jupiter panas] adalah langkah pertama untuk mengasah keterampilan kita, mengembangkan alat kita, dan mempersiapkan kita untuk hal-hal yang lebih menyerupai Bumi," kata astronom Kevin Heng dari University of Bern yang mengulas studi tersebut.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X