Terpuruk di Lereng Meratus

Kompas.com - 01/07/2011, 23:31 WIB
EditorJodhi Yudono

Hal itu membuat masyarakat adat Dayak Meratus menjadi konsumtif yang untuk mengimbanginya terpaksa harus merubah pola mata pencaharian. Perubahan-perubahan yang terjadi, kemudian berimbas pula pada pergeseran nilai sosial kemasyarakatan dan budaya setempat. Dengan kata lain, pergeseran nilai sosial budaya masyarakat adat Dayak Meratus lebih pada akibat ikutan dari pembangunan.

Bahkan, ia menilai kebijakan ganti rugi lahan yang diberikan perusahaan telah berperan mengangkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat setempat.

"Bila hanya di jual kepada sesama masyarakat, tentu nilainya tidak seberapa. Tapi dengan pergantian dari perusahaan nilainya menjadi besar sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan lebih baik," katanya.

Yawang tak membantah apa yang dikatakan Ismail. "Pencaplokan" lahan garapan masyarakat adat memang diberikan pergantian oleh perusahaan. Namun menurutnya, pergantian justru menimbulkan masalah baru.

"Masalahnya, betulkah yang menerima pergantian itu masyarakat adat Dayak Meratus sebagai penguasa lahan dalam artian yang melakukan penggarapan - atau oknum?," katanya.

Tanah, ladang dan kebun masyarakat adat Dayak Meratus mereka miliki secara turun temurun. Kepemilikannya tidak dapat dibuktikan dengan kekuatan hukum. Terlebih lagi, letaknya yang jauh dari wilayah pemukiman menjadikannya sangat mudah di akui oleh pihak lain.

"Bahkan bilapun penggantian itu diterima langsung oleh masyarakat adat itu sendiri sebagai pemilik lahan, tetap akan menimbulkan masalah," ujar Wakil Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalsel, Juliade.

Masyarakat adat Dayak Meratus tidak memiliki sifat kompetitif. Mereka juga tidak mengenal budaya materialistis. Mendapat uang secara tiba-tiba dalam jumlah yang banyak sebagai ganti rugi, hanya akan membuat mereka bingung.

Ketika mendapatkan uang ganti rugi lahan, yang terjadi kemudian adalah penggunaannya yang membabi buta. Karena ketidakpahaman mereka, Dayak Meratus cenderung membelanjakan uang sampai habis tanpa berhitung apakah barang yang di beli mengandung aspek manfaat dan sesuai atau tidak dengan keseharian mereka.

"Akibatnya, uang itu sangat cepat habis hanya untuk membeli barang tak berguna. Dan ketika uang sudah habis, mereka tidak lagi memiliki lahan atau tanah, untuk kemudian terpuruk," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X