Di Balik Kinerja Hati, Organ Pencernaan Paling Efisien - Kompas.com

Di Balik Kinerja Hati, Organ Pencernaan Paling Efisien

Kompas.com - 12/02/2018, 17:00 WIB
Ilustrasi organ hati, bagian dari sistem pencernaanyodiyim Ilustrasi organ hati, bagian dari sistem pencernaan

KOMPAS.com - Kelenjar terbesar manusia yang sangat berperan penting untuk menjaga tubuh bebas dari racun adalah hati.

Sebagai organ yang sangat vital, hati memiliki peran yang penting dalam sistem pencernaan.

Saat makanan masuk ke dalam tubuh, hati akan memproduksi cairan empedu untuk memecahkan lemak yang terdapat di lambung, memproses nutrisi untuk disalurkan ke sistem tubuh, dan menghasilkan kadar gula darah atau glukosa yang digunakan dalam sistem pencernaan.

Menariknya, hati hanya membutuhkan setengah jam untuk menyelesaikan semua tugasnya. Ini pula yang membuat bingung para ilmuwan, bagaimana mungkin hati dapat melakukan semuanya dalam waktu yang sangat singkat.

Baca juga : Benarkah Temulawak Bisa Melindungi Hati dari Penyakit?

Kini, peneliti Salk Institute for Biological Studies, California, AS, menemukan jawabannya. Mereka telah membuktikan hati menyimpan molekul pra-RNA yang terlibat dalam metabolisme glukosa dan lemak sehingga dapat merespon makanan dengan cepat.

RNA dibutuhkan untuk mengumpulkan protein baru untuk memandu metabolisme.

"Peralihan dari puasa ke makan adalah peralihan yang sangat cepat dan mengharuskan fisiologi kita untuk beradaptasi dengan tepat. Hal ini membantu kita memahami bagaimana tubuh dengan cepat dapat menangani ekstra gula," kata Satchidananda Panda, profesor di laboratorium biologi regulasi milik Salk Institute, dilansir Science Daily, Jumat (9/2/2018).

Penelitian yang dipublikasikan di Cell Metabolism, Selasa (6/2/2018), menjelaskan protein pengikat RNA yang disebut NONO terlibat untuk mengatur ritme keseharian dalam tubuh yang disebut sirkadian.

Panda dan koleganya penasaran apakah NONO juga memiliki peran khusus pada hati.

Lewat respon uji coba pada tikus yang diberi makan kemudian puasa, Panda dan timnya menganalisis kadar NONO.

Saat tikus menelan makanannya, gumpalan NONO berbintik muncul pada sel hati, kemudian melekat pada molekul RNA. Dalam waktu setengah jam, kadar protein yang dikodekan oleh RNA terikat NONO meningkat.

"Setelah tikus menelan makanan, sepertinya NONO membawa semua RNA bersama dan memprosesnya sehingga bisa digunakan untuk membuat protein," kata Panda.

Sementara saat tikus kekurangan NONO, maka tubuh membutuhkan waktu lebih dari tiga jam untuk membuat kadar protein yang sama, terlibat dalam peningkatan pengolahan glukosa.

Selama jeda waktu itu, kadar glukosa darah melesat ke tingkat tidak sehat. Hal ini memengaruhi peningkatan diabetes.

Baca juga : Sering Migrain? Hati-hati Penyakit Jantung

Proses yang terjadi pada tikus ini diharapkan peneliti dapat digunakan sebagai model untuk mempelajari beberapa bentuk penyakit terkait hal ini.

"Memahami bagaimana penyimpanan glukosa dan pembakaran lemak diatur pada tingkat molekuler akan berperan penting untuk mengembangkan terapi melawan obesitas dan diabetes," ujar rekan peneliti Giorgia Benegiamo.

Kini, masih ada beberapa pertanyaan yang harus dipecahkan. Meliputi bagaimana sebenarnya NONO memicu mengikatkan molekul pre-RNA setelah makan, dan mengumpulkan daftar lengkap semua pra-RNA yang tak diikat NONO baik di hati atau bagian tubuh lain.

NONO banyak ditemukan di otak dan sel otot, sehingga peneliti berenca untuk meneliti lebih lanjut apakah akan ada reaksi yang sama pada organ tersebut setelah makan.


Komentar
Close Ads X