Kenapa Banyak yang Patah Hati Gara-gara Gugatan Cerai Ahok-Veronica? - Kompas.com

Kenapa Banyak yang Patah Hati Gara-gara Gugatan Cerai Ahok-Veronica?

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 08/01/2018, 17:06 WIB
Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok bersama istrinya Veronica Tan saat Ahok menjabat sebagai gubernur.Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok bersama istrinya Veronica Tan saat Ahok menjabat sebagai gubernur.

KOMPAS.com — Sejak kemarin malam, warganet dihebohkan dengan kabar gugatan perceraian Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan Veronica Tan. Tidak sedikit yang mengungkapkan kekagetan dan kesedihannya ke media sosial.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama warganet patah hati karena perpisahan dua figur publik walaupun biasanya yang menjadi tokoh utama adalah selebriti. Jika Anda masih ingat, kehebohan serupa juga terjadi pada 2016 akibat perceraian Brangelina.

Dari pandangan psikologi, sikap warganet terhadap hubungan Ahok-Veronica, Brangelina, dan pasangan-pasangan publik lainnya sangat bisa dipahami. Ini merupakan bukti dari “hubungan parasosial” yang dimiliki masyarakat dengan figur publik.

Diperkenalkan oleh Donald Horton dan Richard Wohl pada tahun 1956 dalam jurnal Psychiatry, hubungan parasosial merujuk pada fenomena  media menciptakan intimasi satu arah dari jarak jauh.

Baca juga: Perarakan Pasangan Cikupa, Kok Orang Suka Jadi Polisi Kehidupan Seks?

Horton dan Wohl menulis bahwa berbeda dengan masa ketika teater merupakan satu-satunya bentuk drama dan identitas karakter seorang aktor berhenti setelah pertunjukan berakhir; keberadaan televisi dan radio menciptakan “kebingungan identitas” dengan terus menyandingkan fiksi dan kenyataan.

Dengan kata lain, bukannya memisahkan peran seorang aktor sebagai karakter dan pribadinya, kita justru melihat figur publik sebagai penggabungan keduanya.

Bahkan ketika hubungan yang ditampilkan memang fiksi secara harafiah, sebuah riset oleh Jonathan Cohen dari University of Haifa yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships menemukan bahwa penonton merasakan emosi nyata terhadap karakter yang ditayangkan di media.

“Ini adalah pengalaman sosial yang sangat kaya. Orang-orang beranggapan bahwa menonton televisi adalah tindakan antisosial, tetapi sebetulnya kegiatan ini sangat sosial,” ujar Karen Dill-Shackleford, psikolog media di Fairfield University kepada The Cut 19 April 2016.

Baca juga: Mengapa Kita Sangat Bahagia saat Pulang Kampung? Sains Jelaskan

Bagi para penonton, figur publik sangat mirip dengan karakter fiksi. Kita melihat mereka melalui dan membentuk pemahaman mengenai kepribadian mereka walaupun belum bertemu secara langsung.

Dalam artikelnya untuk Pacific Standard, Alana Massey menulis bahwa masyarakat membentuk hubungan imajinasi yang bermakna dengan para selebriti seperti karakter fiksi.

Sebagaimana digambarkan dalam riset pada tahun 2006, selebriti membentuk bagaimana seseorang melihat sebuah hubungan dan diri mereka sendiri.

Dalam hubungan ini,  seorang penggemar akan merasa memiliki nilai yang sama dengan idola mereka, merasa terinspirasi oleh etika kerja idola mereka, dan bahkan terdorong untuk mengejar banyak hal, seperti menjadi penulis atau vegetarian.

Dill-Shackleford mengatakan, dunia cerita membantu kita mengeksplorasi identitas kita, pemahaman kita akan hubungan yang sedang dijalani, nilai-nilai, dan apa yang menurut kita berharga dalam hidup.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberThe Cut
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM