Angka Bunuh Diri Meningkat, Peneliti Kembangkan Alat Prediksi - Kompas.com

Angka Bunuh Diri Meningkat, Peneliti Kembangkan Alat Prediksi

Michael Hangga Wismabrata
Kompas.com - 14/11/2017, 12:05 WIB
Ilustrasi depresiShutterstock Ilustrasi depresi

KOMPAS.com- Angka kematian akibat bunuh diri di kalangan orang muda semakin meresahkan. Berdasar data dari National Institute of Mental Health (NIMH) jumlah kasus bunuh diri saat cenderung meningkat. 

Di Amerika, kasus bunuh diri sudah merupakan krisis kesahatan masyarakat. Dalam beberapa kasus, pelaku tidak mengakui ingin bunuh diri saat komunikasi terakhir dengan terapisnya.

Hal ini mendorong peneliti untuk mencari tanda-tanda yang jelas untuk mengetahui apakah pasien memiliki intensi untuk mengakhiri hidupnya berdasar sejumlah hal. Mulai dari masa lalunya, sejarah keluarga, insomnia, agitasi, rasa keamanan dan kenyamanan, serta sejarah kehidupan sosial.

Dikutip dari Psychology Today, Selasa (31/10/2017), pemikiran bunuh diri tidak selalu berkaitan dengan penyakit kejiwaan. Namun, pikiran dan perilaku bunuh diri dapat terjadi pada banyak kondisi kejiwaan seperti depresi berat, trauma, pengunaan narkotika, gangguan kecemasan, gangguan psikotik, dan gangguan kepribadian.

Baca juga: Benarkah Bunuh Diri Bisa Menular? Psikolog Ini Menjawabnya

Lalu, bagaimana cara mengatasi pemikiran yang merusak tersebut? Salah satunya dengan pendekatan psikologis untuk memahami dan mencari alasan mengapa ada keinginan bunuh diri dan apa artinya.

Kemudian, sebagai lanjutannya, juga bisa dilakukan pendekatan dengan penanganan terapi bagi pasien untuk mengurangi frekuesni dan intensitas keinginan bunuh diri. Sayangnya, kedua hal tersebut bukanlah pekerjaan mudah bagi psikiter atau ahli kejiwaan.

Oleh karena itu, sangat dibutuhkan segera alat untuk memprediksi risiko bunuh diri. Kemajuan teknologi penelitian saraf saat ini, sangat memungkinkan untuk menganalisis aktivitas otak dan menentukan apakah pasien memeliki kecenderungan menyakiti diri sendiri atau tidak.

Harapannya adalah alat tersebut bisa membantu para psikiater atau ahli kejiwaan membuat diagnosa untuk pengobatan klinis menjadi lebih baik.

Penelitian yang dikepalai oleh Marcel Adam Just terkait bunuh diri ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature, Senin (30/10/2017). Dalam temuannya, Just dan koleganya mencoba untuk mengetahui pemikiran bunuh diri dengan melakukan eksperimen terhadap 79 orang dewasa yang sedang ingin bunuh diri dan memiliki trauma keluarga.

Para peneliti menggunakan beberapa instrumen terkait bunuh diri serta menilai depresi, kecemasan, trauma masa kecil, dan kondisi kejiwaan lainnya dengan menggunakan evaluasi dokter dan skala penilaian yang divalidasi. Selain itu, peneliti juga menggunakan Functional Magnetic Resonance Imaging (FMRI) untuk menganalisa aktivitas otak mereka terkait bunuh diri.

Dalam penelitian ini, peserta diberi sejumlah kata yang berkaitan dengan bunuh diri, emosi negatif, dan emosi positif. Mereka kemudian diminta untuk secara aktif mempertimbangkan gagasan yang disajikan secara rinci, agar memudahkan peneliti menganalisis aktivitas otak yang tepat.

Baca Juga: Bagaimana Mengenali dan Merespons Gelagat Bunuh Diri?

Lalu, data dianalisa dengan representasi FMRI yang berhubungan dengan makna kata stabil dan kemudian menentukan lokasi anatomis di jaringan sarafnya. Peneliti menggunakan sebuah program kecerdasan buatan (artificial intelegent/ AI) di komputer, untuk mengetahui kemampuan peserta membedakan pola makna tentang bunuh diri, emosi positif dan negatif.

Hasilnya, peserta dapat secara akurat membedakan keinginan bunuh diri secara sadar dan spontan. Rasa pesimis tentang diri sendiri dan lingkungan akan terwakili dalam pemilihan seseorang. Dari pemaknaan kata-kata seperti kematian, riang, dan tidak bernyawa tersebut, peneliti mengetahui apakah seseorang mempunyai kecenderungan bunuh diri atau tidak.

Para peneliti menyadari bahwa temuan ini belum sempurna. Apalagi sampel yang digunakan relatif kecil dan alat yang digunakan tidak tersedia luas. Maka, pengujian pada populasi lain perlu dilakukan untuk melihat apakah hasil ini tidak hanya akan diulang dengan rentang usia dan kondisi kejiwaan yang lebih luas.

Namun, penelitian dan alat yang dikembangkan menunjukkan sebuah harapan besar sebagai bukti konsep bahwa pembelajaran mesin dapat digunakan untuk menganalisis representasi syaraf dari makna untuk mengembangkan model prediksi perilaku.

PenulisMichael Hangga Wismabrata
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM