Serangga Diambang Punah, Apa Dampaknya bagi Manusia?

Kompas.com - 11/02/2020, 20:33 WIB
Ilustrasi serangga terancam punah Photo by and (c)2007 Derek Ramsey (Ram-Man)Ilustrasi serangga terancam punah


KOMPAS.com - Serangga tengah berhadapan dengan krisis kepunahan di muka Bumi ini. Ancaman punah tersebut sekaligus peringatan bagi umat manusia, sebab hilangnya keberadaan mereka akan menjadi bencana besar.

"Krisis kepunahan serangga saat ini sangat mengakhawatirkan. Namun apa yang kita tahu hanyalah puncak gunung es," ungkap Pedro Cardoso, ahli biologi di Finnish Museum of Natural History dan peneliti dari studi ini.

Menurut Cardoso, aktivitas manusia bertanggung jawab atas hampir menurunnya semua populasi serangga.

Penggerak utamanya adalah habitat yang makin menipis dan rusak, diikuti oleh polutan seperti insektisida.

Baca juga: Krisis Iklim Bikin Serangga Penyerbuk di Ekosistem Indonesia Terancam

Selain itu, juga adanya eksploitasi berlebihan kian membuat populasi serangga menurun.

Kira-kira sekitar 2.000 spesies serangga adalah bagian dari makanan manusia. Lalu masih ada juga perubahan iklim yang berpengaruh pada serangga.

Masalahnya, penurunan populasi kupu-kupu, kumbang, lebah, jangkrik, serta serangga lainnya memiliki konsekuensi yang jauh melampaui dari kematian mereka sendiri.

"Banyak spesies serangga memiliki peran penting yang tak tergantikan, termasuk penyerbukan serta pengendalian hama," kata Cardoso, seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (11/2/2020).

Berdasarkan panel ilmu keanekaragaman hayati PBB atau dikenal sebagai IPBES, tak sedikit nilai ekonomi yang akan terkena dampaknya.

Baca juga: Selain Semut Charlie Alias Tomcat, Inilah 7 Serangga Paling Berbahaya

 

Secara global, tanaman yang membutuhkan penyerbukan serangga memiliki nilai ekonomi setidaknya US$235-577 miliar per tahun.

Banyak hewan lain pula yang bergantung pada serangga untuk bertahan hidup.

Di antaranya seperti penurunan tajam populasi burung di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Diketahui penyebabnya dikaitkan dengan berkurangnya populasi serangga akibat penggunaan pestisida.

"Jumlah spesies serangga yang terancam dan punah sangat diremehkan karena begitu banyak yang langka atau tidak terdeskripsikan," papar Cardoso.

Para ilmuwan sendiri memperkirakan jumlah serangga di planet ini sekitar 5,5 juta.

Seperti yang tercantum dalam makalah penelitian yang diterbitkan di jurnal Biology Conservation, Senin (10/2/2020), hanya seperlima dari populasi serangga itu yang telah diidentifikasi dan diberi nama.

Daftar merah spesies terancam punah yang dikeluarkan The International Union for the Conservation of Nature (IUCN), hanya mengevaluasi sekitar 8.400 spesies serangga.

Baca juga: Kepunahan Serangga Liar Bahayakan Pasokan Pangan Dunia, Kok Bisa?



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X