Kompas.com - 10/02/2020, 18:03 WIB
Ilustrasi operasi semi robotik (semi-robotic surgery), robot medis Ilustrasi operasi semi robotik (semi-robotic surgery), robot medis


KOMPAS.com - Setelah robot-robot dibuat untuk terbang ke luar angkasa hingga robot yang mengerjakan berbagai kegiatan manusia. Kali ini, akan ada robot gantikan peran dokter mengambil darah pasien.

Dunia kedokteran telah lama mengaplikasikan robot untuk membantu dokter dan tenaga medis, seperti mengoperasi pasien.

Melansir CNET, Senin (10/2/2020), sebuah prototipe robot medis kembali dibuat untuk membantu pekerjaan dokter maupun perawat dalam mengambil darah manusia.

Robot ini dikembangkan dan dibuat oleh peneliti dari Rutgers University di New Jersey, Amerika Serikat.

Baca juga: Terinspirasi Transformer, Ahli AS Bikin Robot yang Bisa Lawan Kanker

Prototipe robot ini berhasil menunjukkan kinerja yang baik, bahkan dalam beberapa kasus pengujian, robot ini lebih baik daripada profesional tenaga medisnya.

Percobaan klinis pada manusia, robot pengambil sampel darah ini memberikan waktu yang lebih bebas bagi perawat maupun dokter.

Sebab, mereka akan lebih punya banyak waktu untuk merawat pasien, daripada harus menyuntik untuk mengambil darah pasien.

Dipandu dengan USG, robot akan dengan mudah menemukan pembuluh darah, kemudian menusuknya dengan jarus dan mengambil darah pasien.

Baca juga: Hebatnya China, Rumah Sakit Corona Dilengkapi Robot Medis

Bahkan, robot ini juga diklaim dapat langsung menganalisan darah berbasis centrifruge.

Hasil uji coba ini diterbitkan dalam jurnal Technology dan hasilnya menunjukkan beberapa keberhasilan.

Berdasarkan uji coba tersebut, menunjukkan perangkat robot memungkinkan memiliki tingkat keberhasilan sebesar 87 persen untuk 31 pasien yang diambil darahnya.

Selain itu, untuk 25 peserta yang pembuluh darahnya mudah diakses, tingkat keberhasilannya mencapai 97 persen.

Studi sebelumnya telah menunjukkan perawatan kesehatan secara profesional memiliki tingkat keberhasilan 73 persen pada pasien tanpa vena yang terlihat.

Sedangkan pada pasien tanpa vena teraba keberhasilan 60 persen dan 40 persen pada pasien kurus.

Penulis utama dan mahasiswa doktoral di Rutgers-New Brunswick School of Engineering, Josh Leipheimer mengatakan perangkat ini akan dapat membantu dokter mendapatkan sampel darah dengan cepat, aman dan andal.

"Mencegah komplikasi dan rasa sakit yang tidak perlu pada pasien dari berbagai upaya pemasangan jarum," jelas Leipheimer.

Bahkan, menurut pihak universitas, perangkat robot medis pengambil darah ini juga dapat digunakan untuk prosedur medis umum lain, seperti kateterisasi dan dialisis IV.

Baca juga: Ilmuwan AS Gunakan Sel Katak untuk Hidupkan Robot di Masa Depan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber CNET
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Oh Begitu
Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Oh Begitu
Inggris Disebut Berhasil Keluar dari Pandemi Covid-19 Pertengahan Januari, Ini Kata Ahli

Inggris Disebut Berhasil Keluar dari Pandemi Covid-19 Pertengahan Januari, Ini Kata Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.