Astronom: Bumi Kena Gelombang Misterius, Mungkinkah Supernova?

Kompas.com - 29/01/2020, 20:32 WIB
ilustrasi bumi ilustrasi bumi


KOMPAS.COM - Pada 14 Januari yang lalu, Bumi mengalami peristiwa misterius. Astronom mendeteksi ledakan gelombang gravitasi sepersekian detik, ini merupakan sebuah distorsi dalam ruang waktu.

Namun, sampai saat ini, para peneliti tidak mengetahui dari mana datangnya ledakan tersebut.

Sinyal gelombang gravitasi, yang diambil oleh Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO) dan interferometer Virgo, hanya bertahan 14 milidetik.

Para astronom masih menentukan penyebab ledakan atau mengira ledakan tersebut hanya titik sinar pada radar yang ditemukan pada alat pendeteksi.

Gelombang gravitasi dapat disebabkan oleh tumbukan benda besar, seperti dua lubang hitam atau dua bintang neutron.

Baca juga: Awas Dua Satelit ini akan Bertabrakan di Orbit Bumi, Ini Sebabnya

Hal ini berdasarkan temuan baru yang dipresentasikan pada pertemuan American Astronomical Society pada 6 Januari.

Dalam pertemuan itu, para astronom mendeteksi gelombang gravitasi dari tabrakan bintang neutron pada 2017 dan 2019.

Akan tetapi, kata Andy Howell, seorang ilmuwan staf di Los Cumbres Observatory Global Telescope Network, gelombang gravitasi dari tabrakan objek masif seperti itu biasanya lebih lama.

"Dan bermanifestasi dalam data sebagai serangkaian gelombang yang berubah frekuensinya seiring berjalannya waktu ketika kedua benda yang mengorbit semakin dekat satu sama lain,” ujar anggota fakultas fisika tambahan di University of California, Santa Barbara.

Baca juga: Kristal Kuno Australia Ungkap Misteri Medan Magnet Pertama Bumi

Kemungkinan gelombang dari ledakan bintang

Kendati bukan bagian dari penelitian LIGO, Howell menjelaskan sinyal baru ini bukan serangkaian gelombang, melainkan ledakan.

Kemungkinannya adalah gelombang gravitasi yang berumur pendek ini berasal dari peristiwa yang lebih sementara.

Seperti ledakan supernova, yaitu bencana yang mengakhiri kehidupan sebuah bintang.

Hipotesis beberapa astronom menyatakan itu dapat menjadi sinyal dari bintang Betelgeuse yang meredup secara misterius baru-baru ini dan diperkirakan akan meledak.

“Tetapi bintang Betelgeuse itu masih ada, sehingga bukan skenario itu. Tidak mungkin menjadi supernova lain karena mereka terjadi di galaksi kita hanya sekitar sekali setiap 100 tahun,” sambungnya seperti dilansir LiveScience (23/01/2020).

Howell juga mengungkapkan, kecilnya harapan bahwa ledakan tersebut berasal dari runtuhnya bintang masif.

Baca juga: Rahasia Alam Semesta: Sebenarnya, Berapa Umur Bumi?

Ia juga mengungkapkan, sebelumnya belum pernah melihat bintang yang meledak dalam gelombang gravitasi.

Selain itu, para astronom juga tidak mendeteksi neutrino, partikel subatom kecil yang tidak membawa muatan, yang diketahui dilepaskan oleh supernova.

“Kemungkinan lain adalah peleburan dua lubang hitam massa-menengah menyebabkan sinyal,” sambung Howell.

Bintang neutron yang bergabung menghasilkan gelombang yang bertahan lebih lama, sekitar 30 detik daripada sinyal baru ini.

Sementara peleburan lubang hitam mungkin lebih mirip dengan ledakan yang berlangsung sekitar beberapa detik.

Namun, peleburan lubang hitam menengah mungkin juga melepaskan serangkaian gelombang yang berubah frekuensinya.

Baca juga: Meteorit Murchison Mengandung Material Stardust Tertua di Bumi

LIGO menemukan sinyal ini sambil secara khusus mencari semburan tersebut. Namun, Howell berpendapat tidak berarti apa yang ditemukannya adalah peleburan lubang hitam massal-menengah

“Kami tidak tahu apa yang mereka temukan, terutama karena LIGO belum merilis struktur sinyal yang tepat,” tegasnya.

Oleh karena itu, Howell menyatakan kemungkinan bahwa sinyal baru tersebut hanya merupakan noise dalam data alat pendeteksi.

Tetapi, gelombang gravitasi ini ditemukan oleh ketiga detektor LIGO, satu di negara bagian Washington, satu di Louisiana dan satu di Italia.

Jadi, kemungkinan detektor LIGO menemukan sinyal ini secara kebetulan, artinya itu adalah alarm palsu, sekali setiap 25,84 tahun.

“Sehingga memberi beberapa indikasi bahwa ini adalah sinyal yang cukup bagus,” jelas Howell.

Mungkin ada penjelasan lain untuk ledakan misterius ini juga. Sebagai contoh, supernova bisa langsung runtuh ke dalam lubang hitam tanpa menghasilkan neutrino, meskipun kejadian seperti itu sangat spekulatif.

Para astronom kini mengarahkan teleskop mereka ke wilayah itu untuk mencoba menentukan sumber gelombang.

"Alam semesta selalu mengejutkan kita, mungkin ada peristiwa astronomi yang benar-benar baru di luar sana yang menghasilkan gelombang gravitasi yang belum benar-benar kita pikirkan," ungkap Howell.

Baca juga: Perubahan Kenampakan Bumi, Faktor dan Dampaknya



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X