Berusia 430 Juta Tahun, Ini Kalajengking Tertua yang Pernah Ditemukan

Kompas.com - 18/01/2020, 19:03 WIB
Perbandingan fosil kalajengking berusia 430 juta tahun (Parioscorpio venator) dengan kalajengking modern. sciencemag.orgPerbandingan fosil kalajengking berusia 430 juta tahun (Parioscorpio venator) dengan kalajengking modern.

KOMPAS.com - Peneliti berhasil menemukan kalajengking tertua dalam sejarah. Fosil kalajengking tersebut berusia lebih dari 430 juta tahun dan ditemukan di dekat Waukesha, Wisconsin, Amerika Serikat.

Wilayah Waukesha dulunya merupakan lautan yang hangat dan dangkal. Seiring waktu, kadar oksigen yang rendah serta salinitas tinggi justru melestarikan fosil hewan yang dulu berkeliaran di sana.

Kisah penemuan bermula ketika peneliti menggali wilayah tersebut dan menemukan fosil di awal 1980-an. Namun peneliti tidak mengetahui pasti apa yang telah mereka temukan.

Baca juga: Peneliti Sebut Racun Kalajengking Berpotensi Jadi Antibiotik Baru

Peneliti lantas menyimpan fosil dalam laci Museum Geologi Universitas Wisconsin. Sekitar 2016 barulah fosil tersebut kembali diteliti. Spesies tersebut kemudian diberi nama latin Parioscorpio venator.

Dari studi, selain mengungkap umur kalajengking, peneliti juga mencatat bahwa anatomi internal hewan purba itu terpelihara dengan baik. Sementara itu saat dilakukan perbandingan dengan kalajengking modern, peneliti menemukan kesamaan yang mencolok dalam struktur sirkulasi dan pernapasan.

"Ini menunjukkan bahwa bagian dari anatomi kalajengking tidak banyak berubah selama hampir 440 juta tahun," kata Jason Dunlop, kurator arachnida di Museum Sejarah Alam Berlin, seperti dikutip dari Sciencemag, Kamis (16/1/2020).

Namun masih ada pertanyaan besar yang tersisa. Ini mengenai apakah P.venator hidup di air atau darat. Arachnida sendiri merupakan hewan terestrial pertama. Jadi masih ada kontroversi apakah kalajengking awal ini bersifat akuatik atau tidak.

Baca juga: Kalajengking: Sengatan Setajam Pisau Belum Tentu Beracun

Meski begitu, peneliti lain yang terlibat, Andrew Wendruff berpendapat karena struktur internal P.venator sangat mirip dengan kalajengking modern, sangat mungkin kalau hewan tersebut dapat hidup di darat dan menghirup udara.

Lebih lanjut lagi, berhubung fosil P.venator juga di temukan di endapan laut dangkal, tidak menutup kemungkinan kalau juga bisa hidup di laut.

Pada titik tertentu, mungkin akan ada penemuan kalajengking yang lebih tua dari P.venator. Namun untuk saat ini, temuan P.venator menjadi dasar untuk melacak bagaimana asal-usul arachnida, termasuk di dalamnya adalah laba-laba, kutu, tungau, dan kalajengking.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Sciencemag
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X