Kompas.com - 13/01/2020, 20:03 WIB

KOMPAS.com – Di bagian tengah Samudera Pasifik, terdapat area yang paling terpencil sekaligus ekstrem bahkan bagi kehidupan bawah laut.

Area tersebut bernama Point Nemo, yang terletak di tengah South Pacific Gyre (SPG). Para ahli juga menyebut tempat ini sebagai spacecraft cemetery alias kuburan roket.

Hal tersebut karena antara tahun 1971 hingga pertengahan 2016, badan antariksa dari berbagai belahan dunia membuang sekitar 260 roket ke wilayah tersebut.

Mengutip Science Alert, Senin (13/1/2020), roket tersebut antara lain MIR Space Station milik Uni Soviet pada masa lampau, lebih dari 140 roket milik Rusia, beberapa pesawat kargo milik European Space Agency, sampai roket milik SpaceX.

Baca juga: Usai Hilang Tanpa Jejak, Roket Chandrayaan 2 Milik India Dipastikan Jatuh

Para astronot yang tinggal di International Space Station (ISS) adalah manusia yang berada paling dekat dengan Point Nemo. Hal ini karena jarak dari Point Nemo sampai ISS adalah 360 km. Sementara jarak dari Point Nemo ke pulau terdekat lebih jauh dari itu.

Point Nemo sendiri memiliki area sekitar 37 juta km2. Selain menjadi titik paling terpencil, Point Nemo juga menjadi titik terekstrem dari samudera di Bumi. Sebanyak lima arus laut paling kencang di Bumi tergabung di lokasi tersebut.

Karena lokasi yang terpencil, para peneliti menyebut Point Nemo sebagai desert atau gurun pasir di tengah samudera. Selain itu, jumlah paparan sinar matahari pada Point Nemo juga lebih banyak dibanding area-area lain di samudera.

Sampai saat ini, para peneliti belum memetakan kehidupan bawah laut di Point Nemo karena lokasinya yang sangat terpencil.

Ekspedisi mengarungi South Pacific Gyre

Kapal penelitian milik Jerman, FS Sonne, mengarungi South Pacific Gyre (SPG) pada Desember 2015 sampai Januari 2016. Kapal tersebut mengarungi samudera sejauh 7.000 km, dari Chile sampai Selandia Baru.

Sepanjang perjalanan, kapal tersebut mengumpulkan populasi mikroba dengan kedalaman mulai 20-5.000 meter di bawah permukaan laut. Kapal tersebut menggunakan sistem analisis terbaru yang memungkinkan para peneliti mengidentifikasi sampel organik dalam waktu kurang dari 35 jam saja.

Baca juga: Lagi, Kapal Bekas Perang Dunia II Ditemukan di Dasar Samudera Pasifik

“Menariknya, jumlah mikroba yang kami temukan sepertiga lebih sedikit dibanding area lain di samudera. Ini adalah jumlah paling sedikit dari mikroba di lautan,” tutur salah satu peneliti, Bernhard Fuchs yang merupakan ahli mikroba.

Penyebaran dari mikroba-mikroba ini bergantung pada kedalaman air, perubahan temperature, konsentrasi nutrisi, juga keberadaan sinar matahari.

Hal itu semakin meyakinkan peneliti bahwa SPG, terutama Point Nemo, merupakan “gurun pasir di tengah lautan” karena populasi yang minim serta lokasinya yang sangat terpencil.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

Oh Begitu
Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

2 Kandidat Vaksin Pfizer-BioNTech Diklaim Tingkatkan Respons Kekebalan terhadap Varian Omicron

Oh Begitu
Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro pada 29 Juni, Catat Waktunya

Fenomena
Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Indonesia Rentan Alami Karhutla, Pendekatan Klaster Dinilai Bisa Jadi Upaya Pencegahan

Oh Begitu
Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Marshanda Sempat Dikabarkan Hilang karena Manik Bipolar, Apa Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.