Kompas.com - 07/01/2020, 10:17 WIB
Stephen Moll dan tim dokter NASA bikin perawatan gumpalan darah untuk astronot di ISS. Stephen Moll dan tim dokter NASA bikin perawatan gumpalan darah untuk astronot di ISS.


KOMPAS.com - Studi kasus terbaru mengungkap, seorang astronot di Stasiun Luar Angkasa (ISS) mengidap penyakit trombosit vena dalam (DVT) atau penggumpalan darah di vena jugularis.

Vena jugularis terletak di leher yang berfungsi untuk mengalirkan darah dari kepala, otak, wajah dan leher menuju jantung.

Dikutip Space.com (4/1/2020), identitas astronot dan kapan peristiwa itu terjadi dirahasiakan karena alasan privasi dan keamanan.

Data yang tertuang dalam laporan hanya menyebutkan, astronot tersebut sudah tinggal di ISS selama dua bulan. Dia masih memiliki waktu enam bulan untuk tinggal di ISS ketika DVT ditemukan.

Baca juga: AS Gaet Para Astronot Jepang untuk Eksplorasi Bulan

Astronot itu ketahuan memiliki DVT ketika ada pemeriksaan ultrasound di leher untuk meneliti bagaimana cairan tubuh didistribusikan kembali dalam gravitasi nol.

Selain DVT, astronot tersebut tidak mengalami gejala kelainan apapun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ini adalah pertama kalinya gumpalan darah ditemukan di seorang astronot di luar angkasa, dan NASA tidak memiliki metode yang pasti untuk merawat kondisi tersebut di lingkungan bergavitasi nol itu.

Ahli gumpalan darah

NASA melibatkan pakar gumpalan darah, Profesor kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas North Carolina (UNC) di Chapel Hill bernama Stephan Moll untuk membantu menangani situasi tersebut.

Moll menjadi satu-satunya dokter non-NASA yang diminta NASA untuk membantu menyusun rencana perawatan perihal bekuan atau gumpalan darah yang terjadi pada astronot itu.

Ketika gumpalan darah tersebut ditemukan, hanya ada sejumlah pengencer darah yaitu Enoxaparin yang tersedia.

"Moll dan tim dokter NASA memutuskan pengencer darah akan menjadi pengobatan terbaik bagi astronot. Namun, obat tersebut terbatas dan ISS hanya memiliki sedikit persediaan obat-obatan itu," kata UNC dalam sebuah penyataan.

Moll membantu NASA menentukan cara menjatah stok Enoxaparin di ISS agar dapat secara efektif bekerja pada penyakit DVT astronot, sembari memastikan bahwa astronot tidak kehabisan obat sebelum NASA dapat meluncurkan pengiriman obat baru pada misi kargo berikutnya.

Proses perawatan DVT

Dalam perawatan gumpalan darah yang dimilikinya, astronot menggunakan Enoxaparin. Obat tersebut diberikan melalui suntikan ke kulit, selama sekitar 40 hari.

Pada hari ke-43 perawatan astronot tersebut, melalui pesawat ruang angkasa yang tiba di ISS, astronot disuplai obat Apixaban yaitu pengencer darah berupa pil yang diminum.

Proses perawatan tersebut berlangsung lebih dari 90 hari, dan selama waktu itu astronot selalu memonitor dengan cermat gumpalan darah yang dialaminya dengan melakukan ultrasound di lehernya sendiri dengan bimbingan dari tim radiologi di Bumi.

Moll juga turut serta berbicara dengan astronot melalui email dan panggilan telepon.

Astronot mendarat dengan selamat di Bumi pada akhir misi enam bulan mereka, dan gumpalan darah tersebut tidak memerlukan perawatan lebih lanjut.

Butuh lebih banyak penelitian berlanjut

Para ahli menganggap butuh lebih banyak melakukan penelitian terkait kasus ini, karena hasilnya akan membantu antisipasi dan penyusunan rencana saat misi astronot tinggal di luar angkasa.

"Jika bukan karena penelitian, tidak ada yang tahu apa hasilnya," kata pejabat UNC.

Menurut Moll, ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut tentang bagaimana darah dan pembekuan atau pergumpalan darah terjadi di ruang angkasa.

"Apakah ini sesuatu yang lebih umum di ruang angkasa," kata Moll.

Sehingga bisa mengetahui bagaimana Anda meminimalkan risiko terjadinya DVT, jumlah persediaan obat seharusnya di ISS, ketika hal ini terjawab, maka akan berguna terutama dengan rencana misi astronot yang akan tinggal lebih lama ke Bulan dan Mars.

Astronot NASA, Serena Aunon sebagai seorang dokter yang bertugas sebagai insinyur penerbangan di ISS selama enam bulan pada tahun 2018, selama Ekspedisi 56 dan 57, adalah penulis utama dalam penelitian ini dan Moll ikut menulis studi kasus ini.

"Temuan-temuan baru ini menunjukkan bahwa masih banyak perilaku tubuh manusia yang bisa terjadi saat berada di luar angkasa. Kami masih belum mempelajari segala sesuatu tentang kedokteran ruang angkasa atau fisiologi luar angkasa," kata Aunon.

Baca juga: Galaksi Terbesar di Jagat Raya Tertangkap Kamera NASA

Sementara itu, pertanyaan-pertanyaan besar masih terus dikejar oleh para peneliti. Mengenai bagaiamana menangani hal ini dalam misi kelas eksplorasi ke Mars, bagaimana kita mempersiapkan diri kita secara medis saat akan melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Apalagi penggumpalan darah seperti ini, mungkin saja dapat terjadi pada astronot lainnya di misi yang berbeda.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber SPACE.COM
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.