Mengapa Satwa Langka Rentan Punah? Genetika Jelaskan

Kompas.com - 27/12/2019, 20:05 WIB
Iman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia. THE STARIman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia.

Action Indonesia Global Species Management Plan adalah contoh kolaborasi yang telah berlangsung dengan banyak kebun binatang internasional untuk menjaga kesintasan anoa, babirusa, dan banteng.

Modifikasi genom

Teknologi modifikasi genom digadang-gadang dapat menghilangkan mutasi berbahaya dan membantu konservasi hewan terancam punah.

Penyuntingan genom mulai dilirik sebagai sebuah opsi untuk menyelamatkan populasi terakhir musang berkaki hitam (Mustela nigripes) di Amerika dari penyakit mematikan dan meningkatkan ketahanan alga simbion terumbu karang terhadap pemutihan karang.

Beberapa peneliti bahkan sudah gatal dengan usulan untuk menyelamatkan spesies terancam punah lainnya melalui kontrol gen (gene drive).

Teknologi modifikasi genom telah berhasil diterapkan kepada monyet, sapi, dan nyamuk dalam kondisi laboratorium untuk keperluan medis dan agrikultur. Namun, bagaimana gen baru yang dimasukkan akan memengaruhi populasi generasi selanjutnya belum dapat diprediksi dengan tepat.

Penelitian lebih lanjut terhadap dinamika genom makhluk hidup masih diperlukan untuk memastikan keberhasilan penggunaan teknologi modifikasi genom. Regulasi juga perlu memandu implementasi teknologi tersebut agar tidak membahayakan ekosistem.
Perlu adaptasi regulasi juga

Apa perlu kita bertindak sejauh itu untuk menjaga dan melindungi suatu spesies agar tidak punah? Kemajuan peradaban manusia bergantung kepada seberapa berani kita mendorong batas ilmu pengetahuan; konservasi dan genetika tidak terkecuali.

Namun, kemajuan teknologi yang pesat membutuhkan adaptasi regulasi yang sama cepat. Rencana penangkaran badak Sumatra di Malaysia tahun ini yang telah didukung banyak informasi genetik, misalnya, dapat gagal hanya karena lamanya birokrasi di Indonesia.

Informasi genetik bukan informasi sapu jagad dalam konservasi satwa liar. Kita tetap harus menjaga habitat mereka dari kerusakan dan melindungi mereka dari eksploitasi berlebih. Inventarisasi informasi genetik satwa liar adalah salah satu aspek yang perlu diseriusi untuk meningkatkan efektivitas konservasi, terutama yang terkait translokasi dan penangkaran.

Sabhrina Aninta

Postgraduate Research Student, Queen Mary University of London

Artikel ini tayang di Kompas.com berkat kerja sama dengan The Conversation Indonesia. Tulisan di atas diambil dari artikel asli berjudul "Mengapa satwa langka rentan punah? Begini kata genetika". Isi di luar tanggung jawab Kompas.com.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X