Mengapa Satwa Langka Rentan Punah? Genetika Jelaskan

Kompas.com - 27/12/2019, 20:05 WIB
Iman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia. THE STARIman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia.

Mutasi berbahaya

Mutasi-mutasi gen yang merusak biasanya dapat terkumpul dalam suatu populasi karena tidak berhasil dieleminasi oleh seleksi alam. Seleksi alam tidak dapat bekerja karena fungsi tubuh tidak langsung terganggu.

Dengan demikian, mutasi tersebut berpeluang besar diturunkan ke generasi selanjutnya. Jika tidak ada variasi baru dan perkawinan sekerabat terus terjadi, mutasi-mutasi berbahaya ini dapat terkumpul sampai taraf yang mematikan.

Analisis terhadap genom mammoth berbulu (Mammuthus primigenius), kerabat gajah yang sudah punah pada Zaman Es, menunjukkan bahwa individu terakhir spesies ini menyimpan banyak mutasi berbahaya sebelum akhirnya mati.

Analisis genomik terhadap hewan-hewan terancam punah semisal cheetah Afrika (Acinonyx jubatus), serigala abu-abu (Canis lupus), dan burung ibis endemik Jepang (Nipponia nippon) juga menunjukkan tren yang serupa.

Upaya translokasi

Untuk mengatasi masalah mutasi gen berbahaya, kita dapat melakukan translokasi, yaitu penambahan individu baru ke dalam populasi yang terancam punah. Individu baru ini berasal dari populasi yang berbeda sehingga diharapkan membawa varian genetik yang berbeda untuk melarutkan mutasi berbahaya dalam populasi kecil.

Dalam sebagian besar kasus, kesintasan populasi spesies meningkat akibat upaya ini.

Salah satu upaya translokasi yang berhasil dan kerap menjadi percontohan di seluruh dunia adalah translokasi singa gunung (Puma concolor coryi) yang berlangsung di Amerika Serikat.

Pada 1990, hanya ada beberapa puluh singa gunung di Florida dengan banyak kelainan dan penyakit. Setelah translokasi singa gunung dari Texas dilakukan pada 1995, ukuran populasi singa gunung Florida meningkat menjadi setidaknya 95 individu delapan tahun kemudian.

Sayangnya, keberadaan individu baru dari populasi dengan komposisi genetik berbeda tidak selalu berujung kepada kesintasan populasi.

Individu serigala abu-abu dari Kanada yang masuk sendiri ke Taman Nasional Isle Royale, Amerika Serikat, pada 1997, misalnya, cenderung kawin dengan satu kelompok serigala abu-abu saja.

Dampaknya, populasi serigala abu-abu di taman nasional tersebut kembali mengalami penurunan variasi genetik. Sejak saat itu, populasi serigala abu-abu di Isle Royale terus mengalami penurunan kesintasan hingga pada 2015 ditemukan hanya tiga individu serigala yang saling berkerabat.

Upaya translokasi, meskipun cukup menjanjikan, perlu dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan sejarah genetik populasi asal individu. Program pertukaran individu spesies antarnegara dengan pengawasan rutin terhadap kondisi kesehatan dan genetik individu dapat menjaga stok variasi genetik satwa untuk keperluan penangkaran.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X