Mengapa Satwa Langka Rentan Punah? Genetika Jelaskan

Kompas.com - 27/12/2019, 20:05 WIB
Iman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia. THE STARIman, badak Sumatera di suaka yang berlokasi d Malaysia.

Oleh Sabhrina Aninta


KEMATIAN satwa langka begitu menyesakkan dada. Iman, badak Sumatra betina terakhir di Malaysia, akhirnya mati akhir November lalu setelah sekian lama mengidap kanker.

Iman adalah badak kedua yang mati karena kanker dalam beberapa tahun belakangan, setelah Puntung, badak Sumatra betina di Sabah, yang harus disuntik mati karena kanker juga.

Kanker hanyalah satu dari banyak kelainan sel mematikan yang muncul akibat mutasi yang bersifat merusak fungsi sel dalam populasi satwa liar. Kelainan bentuk wajah dan alat gerak atau tulang belakang, juga dapat menurunkan peluang hidup satwa terancam punah.

Selain translokasi (pemindahan satwa ke habitat yang layak) dan penangkaran, teknologi modifikasi genom dapat mengatasi masalah penyakit genetik pada satwa liar.

Meski peluang teknologi genomik tampak menjanjikan, riset lebih dalam diperlukan untuk memahami dinamika genom makhluk hidup dan mengumpulkan lebih banyak bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penyebab kepunahan

Selain perburuan ilegal, banyak penyakit genetik mematikan yang dapat menyebabkan kepunahan pada satwa liar yang terlanjur memiliki populasi berukuran kecil.

Kurangnya alternatif pasangan kawin baik di alam maupun penangkaran meningkatkan kecenderungan perkawinan sekerabat.

Karena kerabat cenderung memiliki komposisi genetik serupa, perkawinan sekerabat menurunkan variasi genetik yang diperlukan untuk memperluas spektrum kerja sistem imun tubuh.

Terakumulasinya mutasi berbahaya akibat perkawinan sekerabat juga dapat menurunkan tingkat harapan hidup suatu populasi. Bagaimana ini bisa terjadi?

Untuk sebagian besar hewan bertulang belakang, termasuk manusia, fungsi tubuh sangat bergantung kepada gen-gen yang membawa informasi yang diperlukan untuk menjaga sel tetap sehat. Gen biasanya memiliki dua salinan di dalam sel, dan setiap salinan dapat memiliki variasi. Variasi dalam salinan gen ini disebut alel.

Alel-alel ini dapat mengalami mutasi yang merusak fungsi sel. Ketika satu salinan mengalami mutasi dan salinan lain tidak, gen tersebut biasanya masih dapat berfungsi. Ketika perkawinan sekerabat terjadi, peluang bertemunya dua salinan yang membawa mutasi yang mengganggu fungsi gen semakin besar.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Spartan Inovasi Baru Antisipasi Karhutla Indonesia dari BMKG, Apa Kelebihannya?

Fenomena
CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

CDC Memperkirakan, 40 Persen Pasien Covid-19 Tidak Menunjukkan Gejala

Kita
Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Satwa Liar Terkait Pandemi Covid-19, Begini Hasil Survei Persepsi Masyarakat

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini: M 5,1 Guncang Laut Banten, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Hasil Otopsi Temukan Gumpalan Darah di Hampir Seluruh Organ Pasien Covid-19

Kita
Polusi Udara Tahun 2020 Tewaskan Hampir 100.000 Orang di Dunia

Polusi Udara Tahun 2020 Tewaskan Hampir 100.000 Orang di Dunia

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X