Gerhana Matahari Bikin Perilaku Hewan Berubah, Berikut Penjelasannya

Kompas.com - 27/12/2019, 17:04 WIB
Penampakan puncak gerhana matahari cincin yang diabadikan oleh Tim BMKG dari Nias Utara, Sumatera Utara, Kamis (26/12/2019). Menurut daftar yang dirilis BMKG, fenomena astronomi gerhana matahari cincin akan melewati 25 kota/kabupaten di Indonesia pada Kamis hari ini. HANDOUT/BMKGPenampakan puncak gerhana matahari cincin yang diabadikan oleh Tim BMKG dari Nias Utara, Sumatera Utara, Kamis (26/12/2019). Menurut daftar yang dirilis BMKG, fenomena astronomi gerhana matahari cincin akan melewati 25 kota/kabupaten di Indonesia pada Kamis hari ini.

KOMPAS.com - Gerhana Matahari, seperti yang baru kita saksikan kemarin (26/12/2019), ternyata tidak hanya memengaruhi manusia saja, tetapi juga memengaruhi respons biologis dan mengubah perilaku hewan.

Seperti dilansir dari akun media sosial Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) @lipiindonesia; LIPI dan Universitas Tadulako pernah melakukan penelitian terhadap hewan saat terjadi Gerhana Matahari Total (GMT) di Indonesia pada 2016.

Penelitian tersebut dilakukan di Sulawesi Tengah meliputi Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Pengi Binangga, dan Pulau Kelelawar yang mengalami GMT dengan obskurasi 99 hingga 100 persen.

Penelitian itu telah dipublikasikan dengan judul "Effects of The Total Solar Eclipse of March 9, 2016 on The Animal Behaviour" oleh Sigit Wiantoro, Raden Pramesa Narakusumo, Eko Sulistyadi, Amir Hamidy, dan F Fahri dalam Journal of Tropical Biology and Conservation.

Baca juga: Mitos Gerhana Matahari, dari Jatuhnya Kepala Dewa sampai Tanda Kiamat

Hasilnya, beberapa hewan memang menunjukkan berbagai respons ketika ada perubahan mendadak pada kondisi alam. Berikut beberapa hewan yang diteliti oleh tim ahli:

1. Kelelawar

Kelelawar jenis Pretopus alecto menunjukkan perilaku yang berbeda selama GMT. Saat gerhana terjadi pada tanggal 9 Maret 2016, sarang mereka menjadi sangat sunyi. Semua kelelawar juga ditemukan menggantung dengan stabil, sambil menutupi tubuh mereka dengan sayap.

Kondisi tersebut berlanjut hingga pukul 09.15 WITA, yaitu saat setengah dari gerhana parsial kedua.

Pada pukul 09.30 WITA, beberapa individu mulai berperilaku seperti hari sebelumnya dengan terbang di sekitar sarang pohon.

Perilaku yang tidak biasa ini diperkirakan merupakan respons terhadap perubahan faktor lingkungan yang tiba-tiba terjadi selama GMT, terutama penurunan suhu dan kegelapan.

Baca juga: Gerhana Matahari Cincin di Singkawang Begitu Sempurna, Ini Rupanya

2. Monyet Hitam

Respons terhadap GMT juga terjadi pada monyet hitam atau Macaca hecki yang merupakan salah satu primata diurnal (aktif di siang hari dan tidur di malam hari).

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X