Kurang Tidur Karena Kelelahan, Lakukan Hal Ini

Kompas.com - 27/12/2019, 08:20 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.COM - Ketika sedang berbincang, Anda mungkin menyamakan istilah kelelahan dengan rasa kantuk. Padahal, kedua kata itu sangat berbeda jika diartikan dalam bahasa medis.

Rasa kantuk merupakan sebuah kebutuhan seseorang untuk tidur. Perasaan ini bisa terjadi di mana saja, baik saat mengemudi, bekerja, menonton film, atau bahkan setelah mengonsumsi kafein.

Di sisi lain, kelelahan adalah jenis ketidakmampuan seseorang dalam melakukan apapun, baik fisik maupun mental. Jika Anda lelah, Anda masih bisa produktif dalam menjalani aktivitas.

Kelelahan seringkali bersifat sementara dan tidak perlu dikhawatirkan karena dapat diobati. Namun, jika rasa lelah tersebut selalu muncul hingga memperburuk kegiatan Anda, bisa jadi itu akibat dari masalah kesehatan atau gangguan tidur Anda.

Baca juga: Tidur Malam dengan Lampu Mati Bikin Tubuh Lebih Sehat

Pada 2014, organisasi non-profit, National Sleep Foundation melakukan survey terhadap orang dewasa. Hasilnya, 45 persen mengatakan mereka kelelahan karena kurang tidur, bahkan kurang tidur pada minggu sebelumnya.

Survey tentang kelelahan juga dilakukan Dewan Keamanan Nasional pada tahun 2017. Menurut hasil laporan, sebanyak 20 persen orang mengalami rasa kantuk berlebihan secara teratur dan 76 persen orang merasa lelah di tempat kerja.

Oleh karena itu, salah satu penyebab Anda merasa lelah karena kurangnya waktu tidur Anda.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit , sepertiga orang Amerika tidak mendapatkan rekomendasi tidur selama tujuh jam atau lebih. Bahkan, tujuh jam mungkin tidak cukup bagi orang yang melakukan beragam kegiatan.

ilustrasi memanfaatkan waktu istirahat kantor untuk tidurFreepik ilustrasi memanfaatkan waktu istirahat kantor untuk tidur

Kurang tidur bukan hanya gangguan, ini juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan mobil dan telah dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan depresi.

Direktur Harborview Sleep Clinic di University of Washington, Nathaniel Watson mengatakan, kurang tidur juga dapat memengaruhi suasana hati, bahkan kafein tidak dapat mengatasinya.

"Tidak ada pengganti untuk tidur,” ujarnya seperti dilansir ScienceAlert (16/12/2019).

Watson menjelaskan, setiap orang tidak tidur 100 persen selama tujuh jam di kasur. Oleh karena itu, ia menyarankan delapan jam dalam proses tidur, satu jam pertama agar seseorang merasakan ‘waktu bantal’ hingga tertidur pulas dalam tujuh jam berikutnya.

Namun, kelelahan juga dapat disebabkan oleh kesalahan dalam fisiologis tidur atau sering disebut inersia tidur. Kondisi ini terjadi ketika Anda bangun secara tiba-tiba di tengah nyenyaknya tidur sehingga Anda akan sulit bangun di pagi hari jika alarm berdering.

Michael Grandner, direktur Program Penelitian Tidur & Kesehatan Universitas Arizona di Tucson melakukan penelitan yang mengungkapkan bahwa usia juga berhubungan dengan pola tidur yang dapat mempengaruhi rasa lelah.

Seiring bertambahnya usia, pola tidur Anda cenderung berubah. Anda mungkin tidur atau bangun lebih awal secara bergantian. Selain itu, menopause juga menyebabkan seseorang mengalami gangguan tidur.

Baca juga: Mengapa Ibu Hamil Sering Kelelahan?

Namun, kepuasan tidur tidak selalu menurun seiring bertambahnya usia. Penelitian oleh Grandner dan yang lainnya menemukan bahwa orang-orang di awal masa dewasa sering mengalami keluhan tentang tidur dan kelelahan.

"Jika kamu orang yang lebih tua dan kamu benar-benar tidak senang dengan tidurmu, itu sebenarnya masalah," Ujar Grandner.

Apa yang harus dilakukan?

Oleh karena itu, jika kelelahan membuat sulit menjalani hari-hari Anda, para ahli menyarankan untuk mengunjungi klinik perawatan primer. Anda akan dievaluasi penyebab umum kelelahan, termasuk depresi, autoimun penyakit, kadar vitamin dan masalah tiroid.

Namun, Watson berpendapat masih banyak dokter yang kurang terlatih dalam ilmu kedokteran tidur. Grandner menambahkan, dokter perawatan primer juga tidak secara rutin menanyakan pasien tentang tidurnya.

Salah satu orang tua dari anak kecil, menceritakan bahwa dokternya menertawakannya ketika dia mengatakan bahwa dia lelah sepanjang waktu, seolah-olah itu sudah diberikan pada tahap hidupnya.

Baca juga: Ketindihan dan Melihat Hantu Saat Tidur? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Langkah lain yang dapat ditempuh adalah mengunjungi spesialis tidur. Mereka akan mengevaluasinya dan melakukan screening untuk sleep apnea. Gangguan ini, yang menyebabkan orang berhenti bernapas secara teratur dalam tidurnya, mempengaruhi hingga 10 persen orang dan sangat berisiko bagi orang yang kelebihan berat badan.

“Sebagian besar tidak tahu mereka memilikinya. Sekitar 85 persen orang yang menderita apnea tidur tidak terdiagnosis dan tidak diobati. Kita perlu menyadari bahwa jika kita memprioritaskan tidur, kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” tegas Watson.

Baca juga: WHO Tetapkan Fenomena Kelelahan Bekerja Jadi Penyakit Internasional Baru



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X