Viral Istri Pukul Suami Penderita Stroke, Ini Komentar Para Psikolog

Kompas.com - 18/12/2019, 17:03 WIB
Ilustrasi kekerasan emosional dalam hubungan thinkstock/AntonioGuillemIlustrasi kekerasan emosional dalam hubungan

JAKARTA, KOMPAS.com – Video yang berisi tentang seorang istri memukuli suami penderita stroke baru-baru ini viral di media sosial.

Dalam video berdurasi 2 menit 24 detik tersebut, tampak wanita yang disebut sebagai istri mencaci-maki suaminya sebelum kemudian memukulinya dengan menggunakan tongkat. Video itu disinyalir dibuat di Kawasan Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara.

Sang suami tampak menjerit, namun karena penyakitnya yang diduga stroke, tak jelas apa yang ia sebutkan.

Video tersebut mendapat kecaman dari banyak warganet. Menanggapi kejadian ini, Ratih Ibrahim S.Psi., MM selaku Child, Adolescence & Marriage Counselor and Therapist dan Sarahsita Hendrianti, M.Psi., selaku Psikolog Dewasa angkat bicara.

Tindak kekerasan

Ratih Ibrahim menyebutkan, apa yang dilakukan oleh wanita dalam video tersebut merupakan tindak kekerasan.

“Terlepas dari status pria dan wanita tersebut, ini merupakan tindak kekerasan. Jika memang sang pria diduga suaminya dan wanita tersebut diduga adalah istrinya, maka hal ini menjadi domestic violence alias kekerasan dalam rumah tangga,” tutur Ratih kepada Kompas.com, Rabu (18/12/2019).

Baca juga: Mengapa Polisi Melakukan Tindak Kekerasan terhadap Demonstran?

Domestic violence yang terjadi dalam video tersebut, lanjut Ratih, menempatkan sang istri sebagai pelaku (suspect) dan sang pria sebagai korban (victim).

“Setelah mengamati betul video tersebut, saya bentuk kekerasan naik satu tingkat menjadi lebih berat karena korbannya sakit dan tidak berdaya,” tambah Ratih.

Tingkat stres yang tinggi

Sementara itu, psikolog lainnya yaitu Sarahsita Hendrianti mengatakan bahwa seseorang yang memiliki kewajiban untuk mengasuh anggota keluarga memang memiliki tingkat stres yang tinggi.

"Seseorang yang punya dorongan atau kewajiban untuk mengasuh atau menjadi pengasuh keluarga yang terkena penyakit kronis, apalagi menghambat fungsi perilaku seperti stroke, memang tingkat stressnya tinggi. Para pengasuh itu kemudian rentan untuk kena stress," papar Sarahsita.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X